Polemik Mahalnya Harga Avtur, Tiket Pesawat dan Dominasi Pertamina

Rabu, 13 Februari 2019 06:30 Reporter : Siti Nur Azzura
Polemik Mahalnya Harga Avtur, Tiket Pesawat dan Dominasi Pertamina pesawat. shutterstock

Merdeka.com - Mahalnya harga tiket pesawat di Indonesia masih menjadi isu hangat di masyarakat. Anjloknya bisnis maskapai penerbangan dalam negeri hingga harga bahan bakar pesawat, yakni avtur dinilai menjadi penyebab mahalnya harga tiket pesawat.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menilai wajar apabila harga tiket pesawat naik karena menyesuaikan tingginya harga avtur. Sebab, dia menilai dari 35 persen ongkos pesawat tersebut masuk dalam hitungan bahan bakar maskapai penerbangan tersebut.

"Saya kira walaupun bersaing mereka juga harus tetap menghitung biaya tetapnya, ada harga pokok daripada avtur itu. Karena 35 persen daripada ongkos pesawat itu avtur kan," ujarnya saat ditemui di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (11/2).

Dia menilai, harga tiket pesawat di Indonesia selama ini masih tergolong sangat murah apabila dibandingkan dengan negara-negara lain. Apalagi, kata dia, banyak promo-promo yang ditawarkan oleh sejumlah Airlines untuk penerbangan murah.

Murahnya harga pesawat tersebut, kemudian membuat beban perusahaan semakin besar. Bahkan tak jarang beberapa maskapai penerbangan justru mengalami bangkrut. "Apalagi kalau ditarik murah, beberapa airlines yang tutup ada Batavia dulu, ada Adam Air ada Merpati ada Mandala, ada semua kan tutup bangkrut," katanya.

"Jadi kalau kita tekan terlalu murah dia punya tiket juga bagus tapi (cuma untuk) jangka pendek, tapi jangka panjang kalau mereka tidak bisa beli pesawat akhirnya kita yang kena juga. Kita tidak bisa, apalagi mereka bukan pemerintah, mereka statusnya bisnis maka harus sesuai," tambahnya.

Selain itu, tingginya harga avtur yang menyebabkan mahalnya tiket pesawat dinilai karena adanya monopoli penjualan oleh Pertamina. Sejauh ini hanya Pertamina yang memiliki fasilitas pompa bensin khusus avtur di bandara, sedangkan tidak ada perusahaan lain yang punya fasilitas di bandara.

Berikut fakta-fakta dari mahalnya harga avtur, tiket pesawat, hingga dominasi Pertamina yang menjadi polemik.

1 dari 6 halaman

Isu lama

Luhut. ©2017 Merdeka.com/Yayu Agustini Rahayu

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa permasalahan tingginya harga avtur memang bukan persoalan baru. Yang artinya, keluhan akan mahalnya harga avtur bukan hal yang baru terjadi di Indonesia.

"Saya masih mau lihat itu. Karena itu memang masalah lama itu," kata Luhut, saat ditemui, di Kantornya, Jakarta, Selasa (12/2).

Bahkan, ketika naiknya harga tiket pesawat dan pemberlakuan bagasi pesawat berbayar mulai muncul, Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (Indonesia National Air Carrier Association/INACA) meminta kepada regulator dan operator untuk menurunkan harga bahan bakar avtur hingga 10 persen. Sebab, avtur merupakan penyumbang pembentukan harga tiket pesawat paling besar yakni mencapai 45 persen.

"Komponen paling besar adalah fuel, menyumbang 40 sampai 45 persen dari cost maskapai penerbangan. Kita juga sudah dapat support dari Kementerian BUMN, Perhubungan dan ESDM, untuk menurunkan harga avtur," kata Ari Askhar di Jakarta, Minggu (13/1).

2 dari 6 halaman

Harga avtur RI dinilai lebih kompetitif

Pertamina. ©2014 merdeka.com/arie basuki

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno menyebut bahwa harga avtur di Indonesia tidak lebih mahal ketimbang negara lain. Meski demikian, dia berjanji tetap mengupayakan penurunan harga.

Berdasarkan informasi yang didapat, saat ini harga avtur yang dijual PT Pertamina (Persero) sudah kompetitif dibanding dengan avtur di negara lain, meski sedikit tinggi dari Singapura.

"Avtur kita itu kompetitif kok dibandingkan dengan negara-negara lain, di bandara-bandara harga avtur kita sangat kompetitif," kata Rini, di Jakarta, Rabu (16/1/).

Direktur Pemasaran Korporat Pertamina, Basuki Trikora Putra, mengatakan dalam formula harga avtur ada patokan harga tertinggi. Sehingga Pertamina tidak bisa melebihi harga tersebut dalam menetapkan besaran harga avtur.

Basuki pun mengklaim, harga avtur Pertamina belum melebihi patokan harga yang ditetapkan dalam formula. Sehingga harga avtur Pertamina tidak bermasalah jika mengacu formula. "Sepanjang tidak melebihi harga patokannya ya tidak apa-apa lah. Selama ini harga avturnya masih di bawah," jelasnya.

3 dari 6 halaman

Alasan harga avtur RI mahal

pengisian bahan bakar avtur pesawat. ©2013 Merdeka.com/imam buhori

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Djoko Siswanto sempat mengungkapkan bahwa penyebab kenaikan harga bahan bakar pesawat jenis Avtur adalah karena luasnya wilayah Indonesia yang berbentuk negara kepulauan menjadikan transportasi udara menjadi hal paling wajar untuk digunakan menjangkau antarwilayah.

Oleh karena itu, pemakaian Avtur akan menjadi lebih banyak, sebab menggunakan jalur darat dan laut untuk menghubungkan antarpulau masih belum memungkinkan serta dinilai kurang efisien. "Apalagi, untuk pengiriman logistik di pulau terpencil, pesawat perintis masih menjadi pilihan utama, sehingga rute penerbangan pendek antarpulau masih jamak dilakukan," katanya.

Banyaknya rute penerbangan antarpulau tersebut, lanjut Djoko, membuat konsumsi Avtur menjadi lebih banyak dibandingkan negara lain, sehingga harganya besar kemungkinan menjadi naik dan apalagi ketersediannya juga berkurang.

Saat ini harga Avtur yang dijual Pertamina lebih mahal sekitar 20 persen dibandingkan harga internasional. Data yang dihimpun Antara, pada tengah tahun 2018 harga avtur di Bandara Changi, Singapura sekitar 178 sen dolar AS/galon atau Rp 6.583/liter. Harga ini termasuk yang paling murah di banding bandara-bandara lainnya di dunia, termasuk di Riyadh, Arab Saudi sekitar 200 sen dolar AS/galon atau Rp 7.397/liter.

Berdasarkan situs Pertamina Aviation, harga Avtur di Bandara Soekarno-Hatta mencapai Rp 7.580 atau USD 0,56 setiap liternya pada saat 2018 lalu, itu sudah termasuk pengiriman ke pesawat, namun belum menghitung PPN 10 persen dan PPh 0,3 persen khusus penerbangan domestik.

4 dari 6 halaman

Pengusaha minta dominasi Pertamina diatur

pengisian bahan bakar avtur pesawat. ©2013 Merdeka.com/imam buhori

Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani meminta pemerintah agar mencari solusi agar harga tiket turun, salah satunya membuka dominasi Pertamina dalam rangka penyediaan avtur.

"Kita mengharapkan pemerintah untuk membuka dominasi Pertamina. Pertamina tidak boleh memonopoli penjualan avtur. Harus ada perusahaan lain yang menjual avtur," kata Hariyadi di Grand Sahid, Jakarta, Selasa (11/2).

Hariyadi mengatakan, akibat dominasi Pertamina, maskapai harus mengeluarkan biaya lebih karena tidak punya pilihan lain. Penjualan avtur di dalam negeri juga harus dikondisikan dengan bagaimana perusahaan internasional lain menjual avtur. Di mana, maskapai luar tidak mengenakan tambahan pajak pertambahan nilai (PPn) dalam menjual avtur.

"Karena kalau dikenakan PPn kan masakapai penerbangannya berat, akhirnya kan balik lagi masalah mereka tidak bisa menutup operasional. Mereka mulai aneh-aneh idenya, bagasi berbayar dan sebagainya," jelasnya.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Djoko Siswanto mengatakan pihaknya menyarankan badan usaha lain turut menjual avtur, tidak hanya monopoli dari PT Pertamina. "Salah satu cara benar tidaknya avtur Indonesia jauh lebih mahal dari negara lain, ya, coba ada badan usaha lain yang menjual avtur, selain Pertamina," kata Djoko.

Djoko menilai ketika tidak ada badan usaha lain yang menjual avtur maka penilaian harga tinggi belum bisa dinilai obyektif. Sedangkan kondisi di Indonesia masih dijual tunggal oleh Pertamina.

5 dari 6 halaman

Respon Presiden Jokowi

Jokowi. ©2017 Merdeka.com/Istimewa

Ironinya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengaku kaget saat mengetahui harga tiket penerbangan nasional mengalami kenaikan signifikan. Mahalnya tiket pesawat ini juga dikeluhkan oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani.

"Berkaitan dengan harga tiket pesawat, saya terus terang kaget," katanya saat menghadiri Gala Dinner PHRI di Hotel Sahid Jakarta, Senin 11 Februari 2019.

Mahalnya harga tiket maskapai nasional ini dikarenakan harga avtur yang dijual Pertamina lebih mahal dari harga internasional. Jokowi mengatakan, harga avtur nasional 30 persen lebih mahal dari harga Internasional.

"Karena monopoli, harga jadi tidak kompetitif, bandingkan harga avtur di situ dengan yang di dekat-dekat lain, terpaut kurang lebih 30-an persen," ujarnya.

"Berkaitan dengan harga tiket pesawat, saya terus terang kaget," katanya saat menghadiri Gala Dinner PHRI di Hotel Sahid Jakarta, Senin 11 Februari 2019.

Mahalnya harga tiket maskapai nasional ini dikarenakan harga avtur yang dijual Pertamina lebih mahal dari harga internasional. Jokowi mengatakan, harga avtur nasional 30 persen lebih mahal dari harga Internasional.

"Karena monopoli, harga jadi tidak kompetitif, bandingkan harga avtur di situ dengan yang di dekat-dekat lain, terpaut kurang lebih 30-an persen," ujarnya.

Untuk itu, dia akan memanggil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati untuk meminta kejelasan harga avtur di dalam negeri. Dirinya akan memberikan dua pilihan kepada Pertamina, yaitu menurunkan harga atau mengizinkan perusahaan minyak lainnya untuk menjual avtur.

6 dari 6 halaman

Turun tangan pemerintah

pesawat. shutterstock

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akan mengkaji penurunan pajak pertambahan nilai (PPN) avtur PT Pertamina. PPN avtur milik Pertamina selalu dibandingkan dengan beberapa negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Jika nantinya ditemukan perbedaan signifikan pihaknya bersedia melakukan perubahan.

"Kita selalu dibandingkan dengan Singapura, KL, kalau memang treatment terhadap PPN, itu adalah sama, ya kita akan lakukan sama hal ini. Kita lihat supaya tidak ada kompetisi yang tidak sehat, antara Indonesia dengan negara lainnya," jelasnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut menambahkan, saat ini Pertamina masih mengkaji berapa kenaikan avtur termasuk setelah dikenai PPN. "Ya nanti Pertamina akan review saja, nanti akan kita lihat apa ada implikasinya," jelasnya.

Selain itu, Sri Mulyani juga mengaku sudah bertemu dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) guna membahas insentif pajak pertambahan nilai (PPN) avtur tersebut.

Sementara itu, Kementerian ESDM telah membuat formula baru penentuan harga avtur tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 17 K/10/MEM/2019 tentang Formula Harga Dasar dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Avtur yang Disalurkan melalui Depot Pengisian Pesawat Udara yang berlaku setelah tanggal ditetapkan.

Direktur Hilir Minyak dan Gas Kementerian ESDM, Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam mengatakan, pihaknya tengah menunggu laporan harga avtur terbaru dari PT Pertamina (Persero) setelah adanya penyesuaian yang membatasi margin (keuntungan) maksimal 10 persen, sesuai dengan instruksi Menteri ESDM, Ignasius Jonan pada 1 Februari 2019 lalu.

Pembatasan margin maksimal 10 persen ke Pertamina adalah untuk merespons harga tiket pesawat yang mahal di awal tahun ini.

"Harusnya minggu-minggu ini. Iya, harusnya mereka segera laporkan. Saat ini baru SPBU dan SPBN. Saya kira dalam waktu dekat mereka akan serahkan juga ke ESDM untuk avtur, kan SK-nya (Surat Keputusan) sudah keluar," kata Rizwi, di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, Minggu (10/2).

[azz]
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini