Pilih jenis KPR, bunga tetap atau bunga naik turun?

Senin, 3 Agustus 2015 08:06 Reporter : Angga Yudha Pratomo
Pilih jenis KPR, bunga tetap atau bunga naik turun? Pembangun rumah KPR. ©2012 Merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Memiliki rumah idaman terutama di kota besar, saat ini memerlukan dana yang tidak sedikit. Kenaikan harga tanah dan harga properti seperti tidak bisa terkendali dan berlangsung begitu cepat.

Adanya sistem Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dari perbankan dirasa menjadi penenang bagi masyarakat di tengah gejolak harga properti. Namun kehadiran KPR sebetulnya juga perlu diperhatikan cermat dan mesti berhati-hati.

Direktur Eksekutif Indonesia Properti Watch (IPW), Ali Tranghanda menuturkan saat ini terdapat dua jenis KPR pada bank-bank konvensional. Pertama penawaran bunga fixed rate atau tetap dalam beberapa tahun.

Sedangkan tipe kedua, floating rate atau naik turun sesuai suku bunga acuan yang tengah berlaku. Pada kedua tipe ini, Ali meminta agar konsumen berhati-hati dalam memakai sistem fixed rate atau bunga tetap.

"Penawaran KPR dengan fixed rate, konsumen harus hati-hati. Misalnya dua tahun fix (tetap). Itu bahwa artinya tahun ketiga itu jadi naik dan bisa sangat tinggi. Konsumen harus siap dengan kenaikan cicilan," kata Ali kepada merdeka.com, Minggu (2/8).

Mewaspadai tipe fixed rate ini penting. Menurut Ali, tidak hanya dari perbankan, terkadang pengembang juga memanfaatkan jenis ini dengan iming-iming tanpa uang muka atau down payment (DP).

Dengan penentuan bunga tetap beberapa tahun, sebetulnya ini digunakan dalam pembayaran uang muka. Sehingga setelah fixed rate selesai, konsumen terpaksa membayar cicilan dengan kenaikan bunga yang ditentukan perbankan.

"Biasanya dalam penawaran ini, Pengembang kasih subsidi. ini harus hati-hati," jelasnya.

Sedangkan jenis floating rate, lanjut Ali, perbankan hanya mengikuti suku bunga yang ditetapkan Bank Indonesia (BI). Biasanya rata-rata bunga KPR jenis ini sekitar 4 persen di atas BI Rate. Sedangkan rata-rata bunga KPR kedua tipe ini mencapai 11 persen hingga 13 persen.

Guna mengurangi pelbagai risiko ini, kata Ali, konsumen disarankan bertindak jujur dengan dana yang dimiliki. Sehingga ke depannya tidak terkena kredit macet atau Non Performing Loan (NPL). [idr]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Properti
  3. KPR
  4. Perumahan
  5. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini