PHRI: 1.226 Hotel Sudah Lapor Tutup Usaha, 150.000 Pegawai Dirumahkan

Selasa, 7 April 2020 12:30 Reporter : Dwi Aditya Putra
PHRI: 1.226 Hotel Sudah Lapor Tutup Usaha, 150.000 Pegawai Dirumahkan Ilustrasi hotel. ©2014 Merdeka.com/Shutterstock/dotshock

Merdeka.com - Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Haryadi Sukamdani, mencatat sebanyak 1.226 hotel yang tutup akibat pandemi virus corona atau Covid-19 hingga per 6 April 2020. Akibatnya banyak karyawan yang terancam dirumahkan atau berhenti bekerja sementara waktu.

"Kalau untuk laporan terakhir yang dinyatakan tutup itu 1.226 (hotel) per kemarin sore, kalau yang rill lebih banyak karena kita hanya berdasarkan yang lapor saja," kata Haryadi saat dikonfirmasi, Selasa (7/4).

Kendati begitu, Haryadi mengaku belum mempunyai data secara spesifik jumlah tenaga kerja yang terancam akibat penutupan hotel tersebut. Hanya saja dia memperkirakan lebih dari 150.000 orang yang sudah dirumahkan.

"Kita perkirakan lebih dari 150.000 orang. Apalagi kalau yang tutup tadi 1.266 hotel praktis semua diminta untuk cuti diluar tanggungan perusahaan karena perusahaan sama sekali tidak bisa membayar," kata dia.

Sementara itu, penutupan juga terjadi untuk sektor restoran. Menurutnya, beberapa restoran yang berada di mal banyak yang tutup, dan hanya ada beberapa saja yang masih melayani pesanan secara daring (online).

"Restoran lebih banyak lagi cuma saya tidak punya datanya. Restoran paling tidak disiplin buat data," tandas dia.

1 dari 1 halaman

Klaim Belum Ada PHK

ada phk rev1

Hariyadi Sukamdani mengklaim belum ada pemutusan hubungan kerja (PHK) pegawai di sektor hotel dan restoran. Meski demikian, dia mengakui ada penurunan pendapatan di sektor perhotelan dan restoran.

"Dampak ekonomi ini yang kita tak pernah lihat akan sampai mana. Di sektor hotel dan restoran, sudah mulai terasa sekali dampaknya. Okupansi 30 persen, berarti karyawan sudah harus digilir, PHK belum. Karena perusahaan harus mengatur Cash Flow, karyawan tidak menerima gaji full," kata Haryadi dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (12/3).

Dia menjelaskan, ada tiga jenis pekerja hotel yakni, karyawan harian, karyawan kontrak dan karyawan tetap. Saat ini para pekerja harian sudah tidak lagi dipekerjakan. Sementara karyawan kontrak dan karyawan tetap bekerja secara bergiliran.

"Nah yang sekarang terjadi daily worker tidak dipakai, yang karyawan kontrak dan permanen, itu sudah mulai terjadi. Mereka itu masuknya giliran, seperti di Bali. Karena perusahaan jaga cash flow," jelasnya.

Sebab, jika semua pegawai masuk 100 persen, maka perusahaan hotel akan mengalami kerugian, untuk mengantisipasi itu perusahaan mencoba menurunkan 50 persen untuk biaya tenaga kerja. "Biaya yang juga besar, kita minta OJK adalah relaksasi pinjaman. Yakni untuk bayar pokok dan bunga pinjaman," ujarnya.

[bim]

Baca juga:
Harga Batubara April 2020 Turun Akibat Konsumsi Lisrik Negara Terdampak Corona Rendah
Satu Lagi Anggota DPRD Sumut Positif Covid-19
Apindo Nilai Penerapan PSBB Tak Lantas Matikan Industri
Polisi Sebut Tak Ada Pembatasan Kendaraan Keluar Masuk DKI saat PSBB Diterapkan
Kemenkes Pastikan Petugas di Puskesmas Sudah Dilatih Lacak Pasien Covid-19
Warkop di Banda Aceh Wajib Sediakan Wastafel untuk Cegah Penyebaran Corona
Karyawan Hotel Tak Terima THR dan Gaji Imbas Bisnis Lesu Akibat Corona

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini