Peternak sesalkan kebijakan pemerintah Jokowi impor daging India

Selasa, 6 Juni 2017 10:30 Reporter : Idris Rusadi Putra
Peternak sesalkan kebijakan pemerintah Jokowi impor daging India daging sapi. merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Kebijakan pemerintah Jokowi-JK membuka impor daging beku asal India dikritik. Keputusan ini dinilai akan menekan usaha peternakan rakyat Tanah Air, sehingga dalam jangka panjang akan mematikan sektor tersebut.

Ketua Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), Teguh Boediyana mengatakan, kebijakan impor daging beku asal India menimbulkan distorsi harga di dalam negeri, yakni telah menekan harga ternak lokal yang umumnya diproduksi peternak rakyat.

"Ada indikasi harga sapi lokal saat ini turun hingga 50 persen bahkan tingkat pemotongan sapi lokal di rumah potong hewan (RPH) menurun hampir 50 persen karena diisi daging sapi India," katanya seperti ditulis Antara, Selasa (6/6).

Jika kondisi ini dibiarkan, dalam jangka panjang usaha peternakan rakyat akan mati karena dinilai tidak lagi menguntungkan sehingga ditinggalkan para peternak. "Kalau tidak ada peternak maka Indonesia bisa menjadi net importir daging. Sedangkan untuk memulai membangkitkan usaha peternak dari nol lagi sangat berat," ujarnya.

Saat ini, jumlah pelaku usaha peternakan rakyat di Tanah Air mencapai 5,5 juta kepala keluarga dengan populasi sapi sebanyak 20,5 juta ekor.

"Komitmen pemerintah pada peternakan rakyat dipertanyakan, jika (peternakan rakyat) sampai mati maka menimbulkan implikasi sosial, politik dan ekonomi di perdesaan. Filipina yang salah kebijakan di sektor peternakan sekarang menjadi net importir," katanya.

Sekjen PPSKI Rochadi Tawaf menambahkan, saat ini para peternak lokal sudah tidak lagi berorientasi pada bisnis ternak sapi potong harian melainkan sudah berpindah menjadi bisnis jual beli sapi hidup dalam rangka Idul Adha (Lebaran Haji).

Hal itu karena harga ternak saat Idul Adha lebih tinggi dibandingkan puasa maupun Idul Fitri misalnya sapi hidup saat Idul Adha mencapai sebesar Rp 60.000-Rp 65.000 per Kg sementara hari-hari biasa hanya Rp 47.000 per Kg hidup. "Peternak lokal orientasi produksi harian dijagal setiap hari sekarang berubah jadi setahun sekali di Idul Adha," ujarnya.

Kebijakan yang diambil pemerintah saat ini dengan menggelontorkan daging impor beku dinilai terlalu mengintervensi bisnis sapi potong lokal. Hal tersebut menyusul penyebaran daging impor beku yang mulai menembus pasar di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Dengan intervensi daging impor, ya udah bubar (peternakan rakyat). Daging India juga sudah masuk ke Jateng dan Jatim. Peternakan rakyat seakan tidak boleh tumbuh," ujarnya. [idr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini