Petani di Lampung Kembangkan Beras Organik dan Hidroponik

Jumat, 6 Maret 2020 15:21 Reporter : Merdeka
Petani di Lampung Kembangkan Beras Organik dan Hidroponik Petani di Lampung. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Perkumpulan Petani (PP) Gapsera Sejahtera Mandiri di Desa Rejosari, Seputih Raman, Lampung Tengah menggalakkan produksi Berasera, yakni beras sehat yang diproduksi oleh para petani yang tergabung dalam Gapsera Sejahtera Mandiri.

Ketua Gapsera Sejahtera Mandiri, Sukarlin menjelaskan, produk barasera telah mendapatkan sertifikat produk pangan aman dari PT Superintending Company of Indonesia (Sucofindo).

"Kita sudah not detected residu, dari 16 item kita bebas racun, bebas pestisida kimia," ujarnya di Semarang, ditulis Jumat (6/3)

Kendati demikian, Sujarlin menyayangkan belum adanya regulasi atau prosedur untuk sertifikasi beras sehat. Menurutnya, hanya ada tiga klasifikasi yaitu beras premium, organik, dan indigo. Sehingga berasera sementara masuk dalam beras organik.

"Untuk non pestisida ini karena pemerintah belum punya legalitas menyatakan beras ini beras sehat. Adanya hanya beras premium, beras organik, sama indigo geografis integrated seperti beras merah atau beras," ujarnya.

Sebagai informasi, dalam satu musim panen Gapsera bisa menghasilkan 150 ton gabah kering, atau 60 ton beras. Kemudian beras PT Gapsera dengan berat 5 kg dijual dengan kemasan seharga Rp60 ribu.

Barsera kemudian dijual ke seluruh lampung, dan sesekali sampai ke luar kota. "ini dijual sudah ke seluruh lampung, cuma ada satu dua ke bogor," katanya.

Ke depannya, Sukarlin menyatakan keinginannya untuk dapat ekspor berasera. Hanya saja sementara semuanya masih mengalami kendala terkait fasilitasi. "Kalaupun ada yang memfasilitasi, kalau mungkin pihak karantina dan pihak pihak dari dinas itu, sangat ingin kita untuk ekspor," tandasnya.

1 dari 1 halaman

Galakkan Produksi Hidroponik

hidroponik rev1

Kelompok Wanita Tani (KWT) Bina Pertani Kampung Liman Benawi, Kecamatan Trimurjo, Kaupaten Lampung Tengah menggalakkan produksi hidroponik, untuk meningkatkan produktifitas khususnya untuk kelompok tani maupun buruh wanita.

Ketua KWT Bina Pertani, Widarni mengatakan, kegiatan tersebut juga untuk pemenuhan produksi rumah tangga dengan memanfaatkan lahan yang ada. Seperti diketahui, hidroponik adalah budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman.

"Untuk memanfaatkan lahan yang sempit di pekarangan, daripada kita kan wanita tani kalau udah (habis) tanam itu nganggur biasanya," ujarnya.

Kelompok Wanita Tani terbentuk sejak 2012 dan hingga kini telah memiliki total 90 anggota dari 2 kloter, dengan penghasilan rata-rata Rp2,5-3 juta per bulan tiap orang untuk luas lahan sekitar 8 meter kali 10 meter.

Selain itu, Wirdani juga menjelaskan warga binaanya telah sadar wisata. Sehingga selain menanam secara holtikuktura, mereka juga menghiasi pekarangan dengan berbagai macam bunga untuk menarik pengunjung. Sebagai salah satu destinasi agrowisata.

Reporter: Pipit Ika Ramadhani

Sumber: Liputan6.com [azz]

Baca juga:
Senator Asal Kalbar akan Bantu Kementan Optimalkan Kinerja Penyuluh Pertanian
China Berencana Kirim Bebek Untuk Perangi Serangan Belalang di Pakistan
Kenya Dilanda Serangan Ribuan Belalang
Jadi Penyerap Kapas AS Terbesar, Pengusaha Tekstil RI Minta Kemudahan Dagang
Mentan: Bertani Tidak Akan Buat Orang Jadi Miskin

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini