Pesan BJ Habibie: Bangun Konektivitas Antar Pulau via Udara

Kamis, 12 September 2019 09:56 Reporter : Merdeka
Pesan BJ Habibie: Bangun Konektivitas Antar Pulau via Udara BJ Habibie dalam kenangan. ©AFP/Adek Berry

Merdeka.com - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, turut berduka atas kepergian Presiden Republik Indonesia (RI) ke-3 BJ Habibie. Menteri Bambang mengaku, BJ Habibie merupakan sosok negarawan yang sangat demokratis.

"Terakhir bertemu di rumah Beliau waktu puasa tahun ini," tuturnya kepada Liputan6.com, Rabu (11/9).

Menteri Bambang melanjutkan, sebagai Kepala Bappenas, dirinya tidak akan pernah lupa pesan BJ Habibie untuk bagaimana memajukan industri agar bisa unggul di negeri sendiri.

Kata dia, insinyur penerbangan kebanggaan Indonesia itu juga turut berpesan untuk selalu mengutamakan pentingnya konektivitas di sektor perhubungan udara.

"Beliau berpesan agar Indonesia selalu prioritaskan industri bernilai tambah tinggi dan berbasis teknologi, serta membangun konektivitas antar pulau via udara," ujarnya.

"Jadi BJ Habibie merupakan sosok sebagai negarawan yang demokratis dari seorang guru yang ngemong muridnya," lanjut dia.

Reporter: Bawono Yadika Tulus

Sumber: Liputan6

1 dari 2 halaman

Turunkan Rupiah Usai Krisis 1998, dari Rp12.000 Menjadi Rp6.500 per USD

Presiden ke-3 Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie atau BJ Habibie meninggal meninggal dunia pukul 18.05 WIB, Rabu 11 September 2019. Habibie dirawat di RSPAD sejak 1 September lalu.

Berbagai prestasi dan kebijakan ditorehkan BJ Habibie semasa hidup. Salah satu yang sulit dilupakan yaitu saat BJ Habibie bisa mengendalikan nilai tukar Rupiah ketika Indonesia dilanda krisis moneter.

Pada tahun 1998, nilai tukar Rupiah tercatat nyaris menyentuh Rp15.000 per USD. Pada Januari 1998, Rupiah sempat menyentuh Rp14.800 per USD 1, dan paling parah pernah terjadi pada Juni 1998, di mana USD 1 senilai Rp16.800.

Namun, nilai tukar Rupiah pada era tersebut mampu dikendalikan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie. Dia berhasil menekan Rupiah dari belasan ribu hingga berada di bawah Rp7.000 jelang akhir masa pemerintahannya.

Habibie yang diangkat menjadi presiden setelah Soeharto memutuskan mundur dari jabatannya berusaha keras agar Rupiah tak terus melemah. Berbagai cara dia lakukan agar Rupiah kembali menguat dengan segala cara.

Selain mengalami tekanan dari dalam negeri, Habibie juga harus berhadapan dengan intervensi ekonomi yang dipaksakan International Monetary Fund (IMF). Lembaga moneter ini memaksa Indonesia agar menghapus kebijakan subsidi, terutama BBM dan TDL. Namun, hal itu ditolak Habibie.

Ketika itu, Habibie mempertahankan agar harga BBM bersubsidi agar tetap terjangkau oleh rakyat yang terpuruk akibat krisis. Harga Premium saat itu dipatok Rp1.000, dan Solar Rp550. Keputusan ini mendapatkan kritik tajam dari IMF.

2 dari 2 halaman

Pekerja Keras Wujudkan Kemandirian Industri Penerbangan Nasional

Nama Habibie selama ini sangat lengket dengan industri penerbangan. Masyarakat Indonesia mengenal beliau sebagai orang Indonesia yang bisa membuat pesawat. Habibie memang jatuh bangun mengembangkan industri dirgantara nasional.

Habibie adalah orang yang meyakini bahwa industri penerbangan nasional bisa bersaing asalkan ada komitmen untuk mendukung produk yang dihasilkan. Komitmen untuk memajukan industri kedirgantaraan muncul sejak zaman proklamasi. Artinya, sudah lebih dari setengah abad. Habibie menceritakan, saat proklamasi kemerdekaan Indonesia muncul wawasan agar bangsa Indonesia bisa semakin mandiri, termasuk di bidang kedirgantaraan.

Habibie bercerita mengenai sejarahnya pengembangan pesawat terbang. Dia mengaku sudah mulai mengembangkan pesawat semasa kuliah di Jerman. Habibie mengaku pernah menjadi direktur teknologi di perusahaan Airbus.

Pesawat pertama yang dibuat Habibie adalah Airbus. "Pesawat terbang yang pernah dibuat yang dikenali di internet adalah Airbus, di mana saya kerja dulu. Saya dulu pernah direktur di situ untuk teknologi," katanya di Jakarta, Kamis (26/9) malam.

Ketika sedang mengembangkan Airbus 300 di Jerman, Habibie diminta pulang ke Indonesia untuk mengembangkan industri strategis dalam negeri. Setelah itulah, Habibie langsung mengembangkan N 250

"Dalam keadaan demikian saya disuruh pulang. Kalau bukan anda yang tidak membangun Indonesia terus siapa. Pesawat pertama dikenal di internet dulu itu Air Bus A300, N 250 kemudian baru Boeing 777," katanya.

Namun demikian, nasib Airbus, Boeing dan N 250 sedikit berbeda. N 250 tidak bisa berkembang seperti Boeing dan Airbus.

[bim]

Baca juga:
Anies Sebut Banyak Keluarga Indonesia yang Ingin Anaknya Hebat Seperti Habibie
Melihat Makam BJ Habibie, Bersebelahan dengan Istrinya Ainun
SBY dan Keluarga Melayat ke Rumah Duka BJ Habibie
Jokowi Jadi Inspektur Upacara Pemakaman BJ Habibie di TMP Kalibata
Melayat ke Rumah Duka, Jokowi Salati Jenazah BJ Habibie
Amien Rais: BJ Habibie Hamba Allah yang Saleh
Tiba di Rumah Duka BJ Habibie, Tangis Reza Rahadian Pecah

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini