Perokok Indonesia Kesulitan Cari Cara Efektif Berhenti Merokok

Senin, 18 Maret 2019 15:03 Reporter : Merdeka
Perokok Indonesia Kesulitan Cari Cara Efektif Berhenti Merokok rokok. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Pembina Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) Dimasz Jeremia menyebut bahwa sejumlah perokok Indonesia masih kesulitan dalam mencari cara efektif dalam berhenti merokok.

"Saya sudah merasakan sendiri betapa susahnya berhenti merokok. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa berhenti merokok bukan hanyalah soal tantangan psikologis, namun juga fisik. Ketika saya berhenti mengonsumsi rokok secara tiba-tiba, tubuh saya gemetar, mulut saya jadi pahit, dan saya terus-terusan merasa gelisah," ujar Dimasz dikutip dari Antara, Senin (18/3).

Dalam mengurangi efek buruk merokok dan secara efektif membantu para perokok aktif untuk berhenti, ada dua hal yang harus dipahami yaitu bahaya mengonsumsi rokok tembakau dan zat yang mendorong terjadinya ketergantungan terhadap rokok.

Dia menjelaskan bahaya yang dihasilkan oleh rokok datang dari tembakau yang dibakar, yang mana tembakau yang dibakar melepaskan ribuan zat kimia yang 80 persen di antaranya merupakan zat karsinogenik.

Sementara itu, nikotin yang terkandung dalam sebatang rokok bersifat adiktif dan tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa dia mengandung zat karsinogenik yang berbahaya bagi kesehatan. Apabila dalam hal ini tembakau adalah zat yang paling berbahaya dan harus dihindari, maka tembakau perlu dipisahkan dari nikotin.

"Dari pemisahan kedua zat tersebut, kita dapat mencari cara alternatif yang dapat lebih efektif membantu perokok mengurangi risiko berbahaya merokok konvensional."

Cara alternatif tersebut harus mampu menyerupai pengalaman yang dirasakan oleh perokok ketika mereka mengonsumsi rokok konvensional agar cara tersebut bisa secara efektif menggantikan posisi rokok tembakau dengan produk alternatif yang lebih tidak berbahaya.

Sejumlah penelitian seperti Electronic Nicotine-Delivery System (ENDS) atau rokok elektrik dapat memberikan pengalaman alternatif yang serupa dengan merokok tembakau namun dengan risiko kesehatan yang jauh lebih rendah karena tidak melibatkan proses pembakaran.

Hal itu dipublikasikan oleh Public Health England (PHE) pada 2018, yang mana penelitian tersebut menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektrik 95 persen lebih rendah risiko dibandingkan rokok tembakau. Selain itu, juga pada tahun 2018, American Cancer Society (ACS) menyatakan bahwa ENDS seharusnya dipertimbangkan sebagai sebuah solusi untuk mengurangi risiko kanker yang disebabkan oleh rokok tembakau.

Beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang telah mengeluarkan izin untuk pemanfaatan ENDS sebagai alat untuk mengurangi konsumsi tembakau, dan negara-negara ini telah mengalami penurunan angka prevalensi merokok di negaranya masing-masing.

Untuk mengurangi efek berbahaya merokok, pemerintah sebaiknya mempertimbangkan pendekatan yang lebih terbuka terhadap alternatif-alternatif dari rokok tembakau seperti ENDS yang telah banyak diterapkan di beberapa negara.

Sebelumnya, Indonesia masuk ke dalam jajaran negara dengan jumlah perokok aktif terbesar di dunia, setelah China dan India. Data kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa prevalensi perokok di Indonesia memiliki tren yang cenderung meningkat dari 27 persen pada 1995 menjadi 36,3 persen pada 2013.

Tidak hanya itu, WHO Report on the Global Tobacco Epidemic 2017 menyebutkan prevalensi perokok di Indonesia pada pria sebesar 64,9 persen, sedangkan wanita sebesar 2,1 persen. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa Indonesia saat ini tengah mengalami darurat rokok. [idr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini