Perkuat perbankan nasional, Perbanas usul BNI Mandiri dilebur

Rabu, 15 Oktober 2014 15:18 Reporter : Angga Yudha Pratomo
Perkuat perbankan nasional, Perbanas usul BNI Mandiri dilebur Bank Mandiri. ©2012 Merdeka.com/yan muhardiansyah

Merdeka.com - Indonesia diharapkan mempunyai bank berkelas dunia guna menjadi tombak perekonomian. Ketua Perbanas Sigit Pramono menyebut ada tujuh langkah agar angan-angan itu terwujud.

Sigit menjelaskan, tujuh skenario itu harus dilakukan agar mampu bersaing di pasar regional Asia Tenggara bahkan global. Terlebih jelang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 nanti, perbankan harus mulai melakukan cetak biru pengembangan.

Untuk langkah pertama, bankir senior itu menyarankan agar mendirikan Bank Pembangunan Indonesia (BPI). Kedua, melakukan merger antara Bank Pembangunan Daerah milik pemerintah provinsi dengan BPI.

"Sebagai modal awal BPI, pemerintah pusat dapat mengalokasikan modal sekurang-kurangnya Rp 100 triliun," kata Sigit di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Rabu (15/10).

Sigit melanjutkan, langkah ketiga yakni melakukan megamerger antara BNI dan Bank Mandiri. Dia mengusulkan agar namanya menjadi BNI Mandiri.

Menurut dia, setelah dilakukan penggabungan nanti, BNI Mandiri harus melakukan akuisisi Bank BTN dan menjadikannya anak perusahaan. Hal itu dilakukan agar fokus pada pembiayaan perumahan rakyat.

"Selanjutnya, semua portofolio kredit perumahan dari BNI dan Mandiri diserahkan ke BTN. Bank BNI Mandiri nantinya dikembangkan menjadi bank komersial yang kuat dan harus menjadi pemain besar dan tangguh di ASEAN bahkan global," ujarnya.

Langkah keempat, kata Sigit, mengembalikan BRI menjadi bank rakyat. Sehingga bank tersebut bisa lebih fokus kepada UMKM. Sementara, portofolio kredit korporasinyanya dijual ke BNI Mandiri.

"Sebaliknya, portofolio kredit dengan bank-bank lain ASEAN seperti milik Singapura, Malaysia dan Thailand," ucapnya.

Kelima, melakukan penguatan permodalan dan tata kelola para bank komersial swasta nasional, bank komersial menengah dan bank khusus kecil. Untuk langkah keenam, Sigit berangan-angan bahwa bank syariah berplat merah dilebur jadi satu.

"Bank-bank syariah milik BUMN menjadi Bank Syariah Indonesia."

Langkah terakhir, Sigit menyebut seharusnya para bank BUMN tidak berada di bawah kendali kementerian. "Bank-bank itu sebaliknya dikelola di bawah payung perusahaan induk keuangan," terangnya. [bim]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini