Perbankan diminta pangkas NIM agar bunga kredit turun sesuai mau Presiden Jokowi

Kamis, 14 September 2017 10:44 Reporter : Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Deputi Komisioner Pengawas Perbankan 2 Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Yohanes Santoso Wibowo, meminta perbankan untuk menurunkan Net Interest Margin (NIM) saat ini. Sebab, NIM di Indonesia merupakan yang paling tinggi di ASEAN.

"Net interest margin kita paling tinggi di ASEAN, 5,35 persen. Sedangkan teman-teman kita di ASEAN cuma berkisar 1,7 sampai 4 persen," ungkapnya dalam acara 'Indonesia Banking Awards', di Jakarta Selatan, Rabu (13/9) malam.

Oleh karena itu, dia meminta kepada segenap pelaku usaha perbankan untuk menurunkan NIM agar suku bunga kredit bisa lebih rendah. Hal ini pun sejalan dengan keinginan Presiden Jokowi.

"Statement Pak Presiden Jokowi mengenai keinginan bunga kredit yang rendah tentu butuh kerelaan dari teman-teman perbankan untuk mencoba menurunkan Net interest Margin kita," kata dia.

Lebih jauh mantan Kepala Regional 4 Wilayah Jateng dan Yogyakarta ini mengatakan, saat ini sektor usaha perbankan sudah berkembang cukup baik. "Permodalan perbankan sangat kuat karena CAR (Capital Adequacy Ratio/rasio kecukupan modal) rata-rata 23,4 persen," ujarnya.

Selain itu, menurutnya, meski pertumbuhan kredit dalam negeri masih rendah, tapi tetap baik. "Pertumbuhan kredit kalau kita lihat year-on-year masih di atas 8 persen. Memang masih rendah tapi y on y masih 8,2 persen. Pertumbuhan DPK (Dana Pihak Ketiga) masih 9,7 persen," pungkasnya.

Seperti diketahui, OJK akan memberikan insentif jika perbankan mampu menurunkan NIM dan Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO). Insentif tersebut berupa diskon alokasi modal inti yang cukup signifikan untuk pendirian kantor cabang.

[bim]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.