Perang Iran-AS, Ini Dampak Negatifnya ke Indonesia

Rabu, 8 Januari 2020 12:17 Reporter : Syifa Hanifah
Perang Iran-AS, Ini Dampak Negatifnya ke Indonesia rudal balistik Iran. ©narotama.ac.id

Merdeka.com - Iran telah melancarkan serangan ke pangkalan udara Amerika Serikat di Irak, Rabu (8/1) beberapa jam setelah pemakaman Panglima Garda Revolusi Mayor Jenderal Qassim Sulaimani, sebagai aksi balas dendam. Pangkalan Udara itu menampung pasukan koalisi yang dipimpin Amerika Serikat.

Perang antara Iran-AS akan memberikan dampak ke Indonesia khususnya pada bidang ekonomi. Berikut dampak konflik Iran-AS ke ekonomi Indonesia:

1 dari 4 halaman

Harga Minyak Dunia Terus Naik

Harga minyak melonjak lebih dari 4 persen pada Selasa (7/1) malam, setelah pejabat Pentagon mengatakan Iran melakukan penyerangan ke ke pangkalan udara Irak Al Asad Rabu (8/1) pagi. Pangkalan Udara itu menampung pasukan koalisi yang dipimpin Amerika Serikat (AS).

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS melonjak hingga USD 2,85 atau 4,5 persen ke posisi USD 65,65. Harga ini merupakan level tertinggi sejak April, sebelum menarik kembali ke USD 64,11. Benchmark internasional, minyak mentah Brent naik lebih dari 4 persen ke sesi tertinggi USD 71,75 per barel, tertinggi sejak September, sebelum mundur kembali ke USD 69,86.

"Saya pikir para pedagang sepenuhnya mengantisipasi pembalasan, tetapi tidak pada pasukan AS, yang menyebabkan para pedagang takut langkah selanjutnya oleh AS mungkin merupakan serangan balik ke Iran, yang dapat membuka kaleng cacing lain," kata kata direktur pelaksana Tudor, Pickering, Holt & Co. Michael Bradley, dilansir CNBC, Rabu (8/1).

Saham berjangka AS jatuh pada Selasa malam, dengan Dow Jones Industrial Average berjangka turun lebih dari 400 poin pada titik terendah, menunjukkan kerugian lebih besar dari 300 poin pada pembukaan Rabu. S&P 500 dan Nasdaq 100 futures menunjukkan kerugian setidaknya 1 persen.

Sementara itu, Asisten Sekretaris Pertahanan untuk Urusan Publik Jonathan Hoffman mengatakan, penyerangan Iran tersebut bisa membuat West Texas Intermediate (WTI) berada di atas USD 70.

2 dari 4 halaman

Nilai Tukar Rupiah Melemah

Nilai tukar (kurs) Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak fluktuatif di perdagangan hari ini, Rabu (8/1). Rupiah dibuka di level Rp13.930 per USD atau melemah dibanding perdagangan sebelumnya di Rp13.878 per USD.

Mengutip data Bloomberg, Rupiah masih melemah tipis hingga ke level Rp13.936 per USD. Namun Rupiah kembali menguat, dan saat ini berada di level Rp13.922 per USD.

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu berpotensi melemah menembus di atas Rp14.000 per USD seiring meningkatnya konflik di Timur Tengah. Pagi tadi, Iran melakukan penyerangan ke ke pangkalan udara Irak Al Asad, yang menampung pasukan koalisi yang dipimpin Amerika Serikat (AS).

Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Rabu, mengatakan, Serangan balasan tersebut bisa memicu aksi saling membalas dan bisa berujung ke perang di Timur Tengah. Dia memperkirakan rupiah pada hari ini akan bergerak di kisaran Rp13.900 per USD hingga Rp14.050 per USD.

"Sentimen hindar risiko akan membayangi perdagangan di pasar keuangan hari ini termasuk rupiah. Rupiah bisa melemah dalam hari ini, mungkin bisa ke atas Rp14.000," ujar Ariston, dikutip Antara, Rabu (8/1).

3 dari 4 halaman

Investasi Terganggu

Direktur Riset of Reformon Economics (Core) Piter Abdullah mengatakan, kondisi Iran dan AS memanas akan menahan lajunya aliran modal asing masuk ke Indonesia. Kondisi ini kemudian berdampak pada laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan kondisi Rupiah.

"Ketegangan ini juga bisa berdampak ke perekonomian melalui jalur perdagangan misalnya dengan kenaikan harga minyak," kata dia saat dihubungi merdeka.com, Minggu (5/1).

Dia berharap, kedua pihak bisa menahan diri dan menyelesaikan dengan jalur damai. Jangan sampai ketegangan AS dan Iran merusak sentimen positif yang terbangun pasca kesepakatan perang dagang AS dan China.

"Tentunya kita berharap kedua pihak bisa menahan diri. Kalau itu yang terjadi pasar keuangan global akan aman demikian juga dengan IHSG dan rupiah," kata dia.

4 dari 4 halaman

Harga Emas Melonjak

Harga emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange ditutup lebih tinggi untuk sesi ke-10 berturut-turut pada hari Selasa, karena kekhawatiran tentang ketegangan geopolitik di Timur Tengah, mendorong pembelian safe haven logam mulia.

Dikutip dari Antara emas dan aset aman lainnya memperpanjang keuntungan setelah seorang jenderal tertinggi Iran tewas oleh Amerika Serikat pekan lalu, yang meningkatkan minat investor terhadap aset yang dianggap berisiko dan mendorong pembelian tradisional yang aset aman seperti emas.

Logam mulia lainnya, perak naik 21,4 sen, atau 1,18 persen, menjadi ditutup pada USD 18,393 per ounce. Platinum naik USD 5,4 , atau 0,56 persen, menjadi menetap pada USD 971,6 per ounce.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, dengan adanya perang Iran-AS berdampak pada harga emas. "Misalnya dengan membeli dolar atau emas. Harga emas dunia telah naik 2,19 persen dibandingkan tahun lalu dan Dollar index menguat tipis 0,51 persen dalam sepekan terakhir," kata Bhima saat dihubungi Merdeka.com, Minggu (5/1). [dan]

Baca juga:
Kenaikan Harga Emas Dipicu Memanasnya Konflik Iran-AS
Rupiah Melemah ke Level Rp 13.936 per USD Seiring Memanasnya Konflik Iran-AS
Janji Balas Dendam Dipenuhi, Perang Terbuka Iran vs Amerika Serikat Dimulai
Menlu Iran: Kami Serang AS Sebagai Tindakan Pertahanan Diri Sesuai Piagam PBB
Ini Video Iran Serang Pangkalan Amerika Serikat di Irak

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini