Per Juni 2022, Investor Pasar Modal Tumbuh 3 Kali Lipat Dibanding 2019

Jumat, 12 Agustus 2022 16:57 Reporter : Merdeka
Per Juni 2022, Investor Pasar Modal Tumbuh 3 Kali Lipat Dibanding 2019 Ketua OJK Mahendra Siregar. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar mengatakan, adanya pandemi covid-19 tidak menyurutkan minat investor untuk melakukan investasi di pasar modal. Hal itu terbukti investor pasar modal tumbuh 3 kali lipat hingga Juni 2022.

"Investor pasar modal pada bulan Juni 2022 ini telah tumbuh 3,7 kali lipat atau 370 persen, yaitu menjadi 9,3 juta investor dibandingkan pada tahun 2019 pra pandemi yang hanya sebesar 2 juta investor," kata Mahendra dalam LIKE IT : Sustain Habit in Investing, Invest in Sustainable Instruments, Jumat (12/8).

Mahendra mengakui bahwa saat pandemi dianggap sebagai satu kondisi yang paling mencekam dan mengancam stabilitas perekonomian, dan mengancam kondisi kesehatan masyarakat dan keseluruhan stabilitas bangsa dan negara. Namun, disisi lain pandemi juga membawa momentum positif bagi kebangkitan investor ritel di pasar modal.

Justru hal yang menarik, kata Mahendra, dari tambahan investor itu 81 persen merupakan investor generasi milenial dan Generasi Z. Peningkatan jumlah investor domestik itu, merupakan hasil dari upaya seluruh pemangku kepentingan dalam melaksanakan berbagai program sosialisasi dan literasi keuangan kepada masyarakat.

"Tetapi kita tidak bisa menyangkal juga, karena kondisi pada saat pandemi yang lebih banyak waktu diberikan untuk masyarakat menggunakan komunikasi digital, sehingga itu pun memberikan suatu momentum tambahan terhadap peluang untuk meningkatkan literasi produk keuangan dan investasi," ujarnya.

Namun demikian, pihaknya juga harus memperhatikan perkembangan tersebut dengan suatu langkah dan kebijakan yang tepat. Sebab ditemukan pertumbuhan investor ritel selama pandemi dibarengi dengan tren kerugian investor ritel yang meningkat, baik dalam pasar domestik maupun internasional atau cross border.

"Hal ini harus ditindaklanjuti dengan peningkatan perlindungan investor khususnya investor ritel. Fenomena meningkatnya jumlah investor di pasar modal memang benar menggembirakan," ujarnya

Namun hal itu perlu dicermati dengan upaya meningkatkan pemahaman dan pengetahuan investasi pada instrumen keuangan, agar investor memiliki pengetahuan dan pemahaman yang memadai, sehingga tidak hanya menimbulkan herd behavior, noise trading, maupun investing in bubbles.

"Jangan hanya untuk mengejar yield yang tinggi tanpa memperhitungkan resiko aspek legalitas produk serta logika yang mendasar," ujarnya.

2 dari 2 halaman

Tingkat Literasi Meningkat

meningkat

Lebih lanjut, Mahendra menjelaskan, salah satu masuknya investor muda pasar modal adalah tingkat literasi mengenai investasi yang semakin tinggi, yang ditopang oleh berbagai kanal informasi yang semakin mudah diakses, terutama melalui sosial media.

Di sisi lain digitalisasi juga membuat proses transaksi efek di pasar modal semakin mudah dan terjangkau, termasuk pembukaan rekening efek kini dapat dilakukan melalui internet, salah satunya melalui agen penjual perusahaan teknologi fintech.

Tercatat generasi milenial di dunia lebih tertarik pada investasi yang berkelanjutan, atau memiliki dampak positif pada sosial dan lingkungan.

"Berdasarkan suatu studi, generasi milenial yang berinvestasi justru lebih banyak pada investasi berkelanjutan secara proporsional dari keseluruhan portofolio mereka dibandingkan dengan generasi yang lebih tua," katanya.

Investor uang berusia antara 18 sampai 36 tahun mengatakan bahwa mereka menginvestasikan rata-rata 41 persen dari portofolionya pada investasi berkelanjutan.

"Tentu alasan utama adalah harapan bagi investasi tadi dilakukan pada produk perusahaan-perusahaan dan lembaga yang memiliki kegiatan bisnis yang mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan, memperhatikan kesejahteraan masyarakat dan dilaksanakan memenuhi prinsip good governance yang baik," pungkasnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6

[bim]

Baca juga:
Kesenjangan Inklusi Keuangan dan Pemahaman Masyarakat Masih Tinggi
Gara-Gara Ini Masih Banyak Masyarakat Terjebak Pinjol Ilegal
OJK Ingatkan Masyarakat Hati-Hati Pinjam Uang Online, ini Alasannya
Kajian OJK: Bunga Pinjaman Online Maksimal 0,46 Persen per Hari
Aturan Baru: OJK Naikkan Modal Minimal Fintech dari Rp2,5 Miliar Jadi Rp25 Miliar
OJK: Digitalisasi Banking Tingkatkan Risiko Kebocoran Data Nasabah
Data OJK: Penyaluran Pembiayaan Fintech Tembus Rp20,67 Triliun di Juni 2022

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini