Pengembangan Bioavtur Sebagian Besar Didanai BPDPKS

Rabu, 6 Oktober 2021 12:52 Reporter : Merdeka
Pengembangan Bioavtur Sebagian Besar Didanai BPDPKS Kelapa Sawit. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana mengatakan, pendanaan pengembangan bahan bakar nabati (Bioavtur) untuk bahan bakar pesawat didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

"Kami dari Kementrian ESDM bersama dengan Kementerian Perhubungan melakukan koordinasi, plus untuk pendanaan sebagian besar adalah di cover oleh BPDP kelapa sawit," kata Dadan dalam konferensi Pers Seremonial keberhasilan uji terbang menggunakan bahan bakar J2.4, Rabu (6/10).

Dia menjelaskan bahwa acara seremonial ini merupakan keberhasilan pemanfaatan bentuk yang lain dari bahan bakar nabati yaitu Bioavtur. Bioavtur adalah bahan bakar nabati yang berasal dari sawit yang dicampurkan dengan bahan bakar jenis avtur untuk untuk pesawat terbang.

Sama halnya seperti pengembangan Biodiesel 30 persen (B30) yang menjadi salah satu alternatif jenis bahan bakar yang digunakan untuk mobil dengan mesin diesel. Selanjutnya Pemerintah mengembangkan Bioavtur untuk bahan bakar pesawat terbang menggunakan campuran dari sawit.

"Jadi yang teman-teman pahami untuk jenis biodiesel kita sudah 30 persen dan dulu juga kita memulainya kira-kira seperti ini. Jadi ada uji coba terbang ada uji jalan ada tes engine (mesin) dan sekarang Indonesia memasuki babak yang baru untuk pemanfaatan jenis bahan bakar nabati yang kita sebut dengan jenis bioavtur," jelasnya.

Dalam prosesnya, pengembangan Bio Avtur dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) dan ITB. Di mana mereka telah melakukan uji coba co-processing kerosene dengan minyak nabati untuk menghasilkan prototype produk bioavtur.

Kemudian, pelaksanaan pengembangan bioavtur dilakukan di Unit Treated Distillate Hydro Treating (TDHT) Refinergy Unit (RU) IV Cilacap PT Pertamina (Persero) yang menghasilkan J2.0 pada tahun 2020 dan J2.4 pada awal tahun 2021.

"Ini diproduksi di Kilang Pertamina dengan menggunakan proses dan katalis yang dikembangkan bersama oleh ITB dan Pertamina," ujarnya.

Sebagai informasi, sejak 2014, Pertamina telah merintis penelitian dan pengembangan Bioavtur melalui Unit Kilang Dumai dan Kilang Cilacap. Performa Bioavtur sudah optimal, di mana perbedaan kinerjanya hanya 0,2 – 0,6 persen dari kinerja avtur fosil.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com [azz]

Baca juga:
Pertamina Minta Dukungan Alokasi Bahan Baku Kembangkan Bioavtur 5 Persen
Airlangga Perkirakan Pangsa Pasar Bioavtur J2,4 Capai Rp1,1 Miliar
Pemerintah Uji Terbang Bioavtur di Pesawat CN235-220, Jadi Sejarah Baru
Pemerintah Harap Avtur Sawit Bisa Segera Dikomersilkan
Jelang Iduladha, Pertamina Pastikan Pasokan BBM dan Elpiji Aman
Pemerintah Cairkan Rp1 Triliun ke Garuda Indonesia, Cuma Cukup untuk Bayar Avtur

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini