Peneliti: Perempuan ASEAN Hadapi Perjuangan Berat untuk Bisa Duduk di Kursi Direksi

Kamis, 27 Juni 2019 16:35 Reporter : Merdeka
Peneliti: Perempuan ASEAN Hadapi Perjuangan Berat untuk Bisa Duduk di Kursi Direksi Ilustrasi wawancara kerja perempuan. ©2014 Merdeka.com/shutterstock.com/Dragon Images

Merdeka.com - Konsultan Senior dari The Economics Intelligence Unit, Trisha Suresh, mengatakan pandangan sebelah mata terhadap perempuan di dunia kerja harus dihilangkan. Sebab, kehadiran kaum hawa dalam jajaran direksi di sebuah perusahaan dinilai memiliki peran penting terhadap kesuksesan korporasi.

Dia menuturkan, prosentase perempuan pada keanggotaan dewan direksi perusahaan di wilayah ASEAN masih rendah. Hal ini disebabkan oleh adanya bias gender yang luas yang menganggap perempuan kurang cocok untuk posisi eksekutif puncak.

"Perempuan menghadapi perjuangan berat untuk bisa duduk di kursi dewan direksi dibandingkan dengan rekan pria mereka," ujar dia di Jakarta, Kamis (27/6).

Menurut penelitian International Finance Corporation (IFC) berjudul Keanekaragaman Gender Dewan Perusahaan di ASEAN, perusahaan yang memiliki lebih dari 30 persen anggota dewan perempuan melaporkan rata-rata Tingkat Pengembalian Aset atau Return of Assets (ROA) sebesar 3,8 persen. Itu lebih besar dari perusahaan yang tidak memiliki anggota dewan perempuan, dengan ROA sebesar 2,4 persen.

Sementara dalam hal keterwakilan perempuan di dewan, Indonesia setara dengan rata-rata ASEAN (14,9 persen). Namun, Indonesia tertinggal dalam hal jumlah jumlah perempuan yang menduduki posisi manajemen senior (18,4 persen), jauh di bawah rata-rata ASEAN yakni 25,2 persen.

Lebih lanjut, Trisha menyebutkan, kaum perempuan masih sulit untuk bisa mengembangkan karir lantaran banyaknya tantangan yang harus dihadapi, baik di level regional maupun perusahaan.

Di tingkat regional, dia memaparkan, perempuan masih harus menghadapi tekanan sebagai ibu rumah tangga, stereotip umum terkait sifat dan kebiasaan kaum hawa, sampai minimnya wadah untuk bisa menyalurkan bakat. Sedangkan di level perusahaan, pengangkatan seorang dewan direksi masih cenderung didominasi oleh relasi antar sesama rekan lelaki.

"Untuk mengatasi budaya ini, perusahaan dapat mulai memperkenalkan mekanisme seleksi yang lebih formal untuk pemilihan keanggotaan dewan dan memberi kandidat perempuan visibilitas yang lebih besar melalui jaringan lintas perusahaan atau direktori anggota dewan perempuan di seluruh negara," urainya.

Upaya ini didorongnya lantaran dewan direksi sebuah perusahaan yang memiliki anggota perempuan telah terbukti menunjukkan kemampuan pengambilan keputusan yang lebih baik dengan menggunakan perspektif yang lebih luas. Sehingga memungkinkan terjadinya inklusivitas yang lebih besar dan pada akhirnya berbuah kinerja keuangan lebih baik.

"Bisnis inklusif yang mempromosikan kesetaraan perempuan, pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi, adalah kunci untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs)," tandasnya.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Sumber: Liputan6.com [bim]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini