Pemulihan Ekonomi Kuartal III-2021 Diprediksi Masih Tertahan, Ini Penyebabnya

Selasa, 7 September 2021 17:47 Reporter : Anisyah Al Faqir
Pemulihan Ekonomi Kuartal III-2021 Diprediksi Masih Tertahan, Ini Penyebabnya Mall Kota Kasablanka. ©Liputan6.com/Ayu Lestari

Merdeka.com - Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga 13 September 2021 di Jawa-Bali dan 20 September di luar Jawa-Bali. Meski begitu, pemerintah memberikan beberapa kelonggaran kebijakan di wilayah dengan penerapan PPKM level 3.

Direktur Celios (Center of Economic and Law Studies), Bhima Yudhistira menilai, mobilitas masyarakat ke pusat perbelanjaan pada bulan September 2021 sudah mengalami peningkatan dibandingkan pada bulan Juli di tahun yang sama. Bila pada pertengahan juli mengalami kontraksi hingga minus 35 persen, maka per tanggal 2 September berada di titik 0 persen.

"Mobilitas masyarakat ke pusat perbelanjaan ada perbaikan dari minus 35 persen di pertengahan Juli saat PPKM darurat menjadi 0 persen dari baseline per 2 September 2021 saat mulai pelonggaran," kata Bhima kepada merdeka.com, Jakarta, Selasa (7/9).

Bhima melanjutkan, data tersebut bermakna ada indikasi masyarakat mulai berbelanja kembali. Sayangnya hal ini tidak merata di seluruh kelompok pengeluaran.

Belanja masyarakat kelas menengah bisa langsung dilakukan karena memiliki dana yang cukup untuk dibelanjakan. Sementara bagi masyarakat kelas masih tertahan karena masih belum bisa menghasilkan pendapatan lagi.Kondisi ini pada akhirnya akan menyebabkan pemulihan konsumsi terjeda dari adanya pelonggaran mobilitas.

"Lapisan menengah atas diperkirakan lebih pede berbelanja, sementara kelas menengah bawah masih menunggu pemulihan sisi serapan kerja dan perbaikan pendapatan. Kalau orang kaya mereka simpan uang di bank, tinggal geser ke belanja," tuturnya.

2 dari 2 halaman

Pertumbuhan Ekonomi Terjadi pada Kuartal IV-2021

Dari kondisi tersebut, maka pertumbuhan ekonomi di kuartal ke III katanya tidak akan lagi tumbuh di atas 7 persen sebagaimana yang terjadi pada kuartal II yang lalu. Dia memprediksi pertumbuhan ekonomi akan berada di angka 3 persen.

"Pertumbuhan ekonomi tidak mungkin lagi naik 7 persen, ya paling optimis kisaran 3 persen," kata dia.

Alasannya, pada kuartal ke III tidak ada momentum khusus yang bisa memicu pertumbuhan ekonomi seperti Lebaran di kuartal sebelumnya. Hanya ada pengeluaran sektor pendidikan yang secara musiman mendorong belanja lebih tinggi di kuartal ke III.

Sebagai akibat dari jeda antara pelonggaran dengan pemulihan konsumsi rumah tangga, maka proyeksinya baru di kuartal ke IV-2021 atau awal 2022 bisa pulih. Namun, dengan catatan bergantung dari kecepatan penurunan kasus covid-19, vaksinasi, besaran stimulus dan serapan anggaran pemerintah. Sehingga momentum pemulihan ekonomi akan lebih terasa pada terakhir tahun ini.

"Maka dari itu momentum krusialnya sebenarnya ada di kuartal ke IV-2021, karena faktor seasonalnya natal dan tahun baru," kata dia.

Terlebih biasanya masyarakat melakukan belanja lebih tinggi dan jalan-jalan di libur tahun baru. Bila pelonggaran kebijakan ini berjalan mulus tanpa lonjakan kasus, bisa membuat konsumsi rumah tangga tumbuh positif. "Bisa jadi kuartal ke IV-2021 konsumsi rumah tangga akan positif," kata dia.

Maka, antisipasi yang perlu dilakukan yakni dengan penegakan protokol kesehatan, 3T dan vaksinasi sektor prioritas. Misalnya di sektor yang dilonggarkan seperti industri manufaktur dan retail serta restoran. Pegawai di sektor yang dilonggarkan harus dipastikan mendapatkan jatah vaksin secara merata. [idr]

Baca juga:
OJK: Dampak Negatif Covid-19 ke Perekonomian Belum Bisa Hilang dalam Waktu Dekat
Sri Mulyani Sebut Kontraksi Ekonomi RI 2020 Lebih Baik Dibanding Negara ASEAN dan G20
Ekonom: Pelonggaran PPKM Beri Tambahan Napas Bagi Dunia Usaha
Ekonomi RI Diprediksi Mulai Pulih di Kuartal I-2023
Erick Thohir Ibaratkan Kelola Perekonomian di Masa Pandemi Seperti Menyeduh Kopi

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini