Pemerintah Pastikan Kelapa Sawit Masuk Dalam Perjanjian Dagang RI-Uni Eropa

Selasa, 19 November 2019 12:30 Reporter : Dwi Aditya Putra
Pemerintah Pastikan Kelapa Sawit Masuk Dalam Perjanjian Dagang RI-Uni Eropa Kelapa Sawit. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Pemerintah terus mendorong agar komoditas sawit dapat masuk ke dalam perjanjian kemitraan antara Indonesia dan Uni Eropa (Indonesia European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement/IEU-CEPA). Hal ini sejalan dengan misi Presiden Jokowi dalam perlindungan dan pengembangan industri sawit Tanah Air.

Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi memastikan pihaknya terus melakukan negosiasi perjanjian dagang dengan Eropa, salah satunya masalah sawit. Saat ini, diakuinya memang perjanjian tersebut belum tuntas dan akan diselesaikan dalam waktu dekat.

"Kami hanya memastikan bahwa negosiasi dengan uni eropa sawit akan menjadi salah satu elemen yang dinegosiasikan," katanya dalam acara Rakornas Kadin, di Jakarta, Selasa (19/11).

Menteri Retno menginginkan perjanjian dagang ini bisa menjadi jembatan bagi hubungan kerja sama yang lebih baik antar kedua pihak, khususnya di sektor industri sawit.

1 dari 1 halaman

Riwayat Ketegangan Kelapa Sawit RI dengan Eropa

Hal ini tak lepas dari riwayat panjang ketegangan Indonesia dengan Uni Eropa terkait industri sawit. Uni Eropa kerap menilai industri sawit memberikan dampak buruk terhadap lingkungan.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Internasional, Shinta W Kamdani, menambahkan perjanjian dagang IUE-CEPA memang berjalan alot dan tidak bisa diselesaikan dalam waktu dekat. Dia menilai masalah ini menjadi suatu isu yang pelik di antara kedua pihak.

"Palm oil ini masalah yang masih sangat pelik dan itu ada satu chapter khusus terkait sustainable developmennya. Prinsipnya perjanjian ini punya kepentingan akan bermanfaat pada sektor-sektor yang padat karya," jelasnya

"Dari sisi yang lian, kita harus berhati-hati karena palm oil kita sekarang didiskriminasikan oleh EU. Oleh karena itu kita mencari solusinya juga melalui perjanjian ini," katanya.

Shinta mengatakan, ada dua sisi yang bisa dilihat dari permasalahan dagang antara Indonesia dan Uni Eropa. Namun, bagaimanapun melihatnya kata dia, negosiasi harus tetap berjalan.

"Karena ini makan waktu dan kalau kita hentikan semuanya kita akan tentu saja kalah dengan negara seperti vietnam yang sudah mendahului Indonesia," tandasnya. [idr]

Baca juga:
Minta Perpres ISPO Ditunda, Petani Sawit Riau Kembali Kirim Surat ke Jokowi
Ma'ruf Amin Minta Mentan Syahrul Segera Realisasikan Peremajaan Sawit
Ma'ruf Amin Hadiri Pembukaan Konferensi IPOC di Bali
Menko Airlangga Bakal Promosi Kelapa Sawit di Hannover Messe 2020
Pemerintah Perlu Prioritaskan Penuntasan Sengketa Lahan Sawit
Bahas Diskriminasi Sawit dengan Eropa, Indonesia Pakai Pengacara Belgia

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini