Pemerintah Masih Tempatkan Batu Bara Jadi Energi Prioritas Hingga 2040

Jumat, 19 Maret 2021 20:45 Reporter : Idris Rusadi Putra

Konsumsi Elpiji

Ridwan mengungkapkan konsumsi elpiji nasional tahun 2019 mencapai 7,65 juta ton di mana 75 persen atau 5,73 juta ton adalah produk elpiji impor. Penyediaan kebutuhan elpiji ini membuat negara harus mengeluarkan devisa sebesar Rp52,4 triliun.

"Dalam Grand Strategi Energi Nasional, kami mengharapkan impor elpiji bisa menurun dan semaksimal mungkin bisa melakukan substitusi melalui pemanfaatan Dimetil Eter dari pengolahan batu bara," kata Ridwan.

Merujuk data Badan Geologi tahun 2019 sebanyak 90 persen cadangan batu bara di Indonesia memiliki kalori sedang dan rendah dengan sumber daya mencapai 149,01 miliar ton dan cadangan sebesar 37,46 miliar ton.

Jenis batu bara berkalori sedang dan rendah ini biasa dimanfaatkan untuk bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), pabrik semen, kertas, metal, dan tekstil.

Pemerintah menyiapkan tujuh peluang hilirisasi batu bara, yakni gasifikasi, pembuatan kokas, batu bara cair, peningkatan mutu batu bata, gasifikasi batu bara bawah tanah, dan pembuatan briket. [idr]

Baca juga:
KLHK: Hasil Tes, Limbah Batu Bara PLTU Tidak Memenuhi Bahan Berbahaya
Pemerintah Klaim Pengolahan Limbah Batubara Tetap Lindungi Lingkungan
Deretan Proyek Dikerjakan PT Bukit Asam, Termasuk Bangun PLTU
KLHK: Pembakaran Batu Bara di PLTU Melalui Temperatur Tinggi Sehingga Karbon Minimum
Bukit Asam Catat Ekspor Batubara ke China Naik 15 Persen Tiap Tahun
Bos PT Bukit Asam Sebut Limbah Batubara Sekarang Bisa Diolah Jadi Produk Konstruksi

Halaman

Show All
Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Produksi Batubara
  3. ESDM
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini