Pemerintah catat penurunan pelajar yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi

Jumat, 13 Juli 2018 11:36 Reporter : Dwi Aditya Putra
Pemerintah catat penurunan pelajar yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi Peluncuran Indeks Pembangunan Pemuda. ©2018 Merdeka.com/Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Badan Pusat Statistik (BPS), dan United Nations Populations Fund (UNFA) meluncurkan Indeks Pembangunan Pemuda atau Youth Development Index (IPP/YDI) Indonesia 2017, di Gedung Bappenas, Jakarta, Jumat (13/7).

Sekretaris Utama Bappenas, Gellwynn Daniel Hamzah, yang mewakili Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, mengatakan IPP/YDI Indonesia adalah instrumen untuk memberikan gambaran kemajuan pembangunan pemuda Indonesia. Menurutnya, kehadiran indeks 2017 ini dapat menjadi rujukan bagi penyusunan kebijakan dan strategi pembangunan pemuda Indonesia, sekaligus dapat menjadi acuan dalam rangka koordinasi lintas sektor baik tingkat pusat maupun daerah.

"Indeks ini memuat capaian 15 indikator pembangunan kepemudaan pada 2015 dan 2016, yang dituangkan dalam lima domain, yakni pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, kesempatan dan lapangan kerja, kepemimpinan dan partisipasi, serta gender dan diskriminasi. Secara umum IPP Indonesia mengalami peningkatan dari 2015 ke 2016 dari 47,33 persen menjadi 50,17 persen," ungkapnya dalam sambutan saat Launching Indeks Pembangunan Pemuda IPP Youth Development Indeks (YDI) Indonesia.

Gellwynn mengungkapkan, dari kelima domain tersebut, yang memperoleh nilai tertinggi adalah pendidikan. Kondisi ini antara lain disebabkan oleh tingkat partisipasi dijenjang pendidikan menengah yang relatif tinggi.

"Akan tetapi apabila diliat secara rinci, tingkat partisipasi pemuda di jenjang perguruan tinggi di seluruh provinsi justru mengalami penurunan," imbuhnya.

Sementara itu, domain kesehatan dan kesejahteraan menempati posisi kedua dalam perolehan nilai. Hal tersebut menunjukan bahwa pemuda mendapatkan akses layanan kesehatan semakin baik di tingkat daerah.

Di sisi lain, meskipun domain lapangan kerja dan kesempatan kerja serta gender dan diskriminasi berada pada peringkat terendah, pada periode 2015 hingga 2016 keduanya menunjukan peningkatan. Sebab, tingkat pemuda menganggur dan perkawinan usia anak yang menurun.

Gellwynn mengungkapkan, secara keseluruhan IPP sebagian besar provinsi mengalami kemajuan, mengingat ada 30 provinsi yang mengalami perubahan positif. Di mana pada 2016, Daerah Istimewa Yogyakarta menempati peringkat pertama untuk IPP secara keseluruhan, dan mendapatkan indeks tertinggi pada domain pendidikan, partisipasi dan kepemimpinan, serta gender dan diskriminasi.

"Paling tidak, ada enam provinsi yang melakukan lompatan terbesar, termasuk Sulawesi Utara yang mengalami lompatan besar dari 2015 ke 2016, karena menurunnya tingkat kesakitan pemuda dan kehamilan remaja," pungkasnya.

[bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini