Pemerintah Berencana Lakukan Front Loading SBN di 2020

Selasa, 3 Desember 2019 16:13 Reporter : Dwi Aditya Putra
Pemerintah Berencana Lakukan Front Loading SBN di 2020 investasi. shutterstock

Merdeka.com - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengaku sudah memiliki strategi front-loading untuk 2020 mendatang. Front-loading merupakan strategi pembiayaan dengan penerbitan surat berharga negara (SBN) dalam jumlah besar di awal tahun.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Lucky Alfirman, mengatakan sejauh ini pihaknya masih akan menghitung terlebih dahulu seluruh kebutuhan pembiayaan terhadap Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2020. Dari hasil tersebut, nantinya baru terlihat pembiayaan-pembiayaan seperti apa yang dibutuhkan pemerintah.

"Kebetulan financing kita untuk APBN tahun 2020, seperti biasa keliatan nanti berapa bond yang akan kita terbitkan, berapa pinjaman, bentuknya apa konvensional atau sukuk, Rupiah atau non Rupiah. Itu rencana kita akan kita tetapkan," katanya di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/12).

Untuk tahun ini, pemerintah sendiri telah mengeluarkan berbagai alternatif skema pembiayaan untuk menambal APBN melalui SBN berdenominasi valuta asing (valas) alias global bond. Tak sampai di situ, pemerintah juga sudah dua kali menerbitkan obligasi berwawasan lingkungan atau yang lebih dikenal dengan istilah green bond.

"Kalau ditanya rencana kita akan selalu menerbitkan green bond, tapi selalu subject to market condition. Maksudnya kita selalu lihat kondisi market (SBN) seperti apa, appetitenya seperti apa, dan demand nya seperti apa," jelas dia.

1 dari 1 halaman

40 Persen SBN Dikuasai Asing, Pemerintah Mulai Selektif Cari Investor

Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Suminto mengungkapkan, ada sekitar 40 persen surat berharga negara (SBN) yang telah dikuasai oleh investor asing.

Untuk itu, pemerintah akan terus berhati-hati untuk memilih investor-investor yang akan membeli SBN. Sehingga, hal tersebut tidak akan memberikan resiko ke Indonesia.

"Kita perlu lihat profile investor tadi, sehingga kira-kira memberikan risiko besar tidak? Investor asing yang beli obligasi kita itu investor jangka panjang bukan spekulan," ujarnya di Kantor DPP Taruna Merah Putih, Jakarta, Kamis (12/4).

Dia menilai, jangka panjang tersebut dapat terlihat pada pola perdagangan mereka yang hanya sebesar Rp6,18 triliun hingga Rp11 triliun, dari total yang dikuasai asing terhadap obligasi pemerintah setara dengan Rp858,79 triliun.

"Tidak akan mungkin mereka tiba-tiba jual hingga Rp100 triliun. Kalau dijual cuma segitu dari Rp800 triliun menggambarkan investor asing yang pegang obligasi kita investor jangka panjang," tegasnya.

Dengan begitu, pemerintah juga telah memiliki langkah antisipasi jika sewaktu-waktu investor asing tersebut memberikan ancaman bagi negara hingga berpotensi menciptakan aliran dana keluar.

"Jadi kalau sampai kejadian seperti itu kita sudah siap menanganinya. Apa yang harus dilakukan sudah tau. Jadi jika tiba-tiba banyak investor asingnya outflow. Kita sudah punya crisis management protocol," tegasnya.

[bim]

Baca juga:
Bank Mantap Terbitkan Obligasi Rp1 T, Tawarkan Bunga 7,9 dan 8,2 Persen
Terbitkan Obligasi, PNM Dapat Dana Segar Rp1,35 Triliun
BTPN Terbitkan Obligasi Rp1 T, Tawarkan Bunga Hingga 7,75 Persen
Sejak 1 November, Sukuk ST006 Telah Raup Pembiayaan Rp900 Miliar
Meski Imbal Hasil Terus Turun, Investasi SBN Diyakini Masih Diminati
Masyarakat Tetap Bisa Investasi SBN Meski Tak Punya NPWP
ORI016 Tawarkan Bunga 6,8 Persen, Incar Investor Ritel

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini