Pelemahan Rupiah Kerap Jadi Momen Pedagang Spekulan Naikkan Harga Barang

Senin, 23 Maret 2020 16:09 Reporter : Sulaeman
Pelemahan Rupiah Kerap Jadi Momen Pedagang Spekulan Naikkan Harga Barang Online Shop. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Direktur Peneliti Core Indonesia, Pieter Abdullah, tak menampik pelemahan Rupiah akan membuat sejumlah harga barang impor akan naik. Dia mencontohkan salah satunya barang-barang elektronik.

Namun, momen pelemahan Rupiah ini kerap dimanfaatkan pedagang spekulan. Salah satunya oleh pedagang daring atau online. Hal ini, menurutnya, yang berbahaya dan akan membebani masyarakat dalam waktu dekat.

"Impor tidak kayak beli bakso. Impor ada prosesnya, tidak serta merta naik," tegas Pieter saat dikonfirmasi Merdeka.com, Jakarta, Senin (23/3).

Menurutnya, proses impor membutuhkan waktu. Setidaknya 3 bulan. Maka dari itu, selaiknya harga barang-barang impor tidak naik serta merta saat Rupiah melemah.

"Itu biasanya akan mengklaim, para pedagang mengambil kesempatan, atas pemberitaan pelemahan nilai tukar Rupiah," lanjut dia.

Sedangkan, bagi para importir barang elektronik, saat ini justru masih menjual dengan harga yang sama sebelum Rupiah melemah. Untuk itu pemerintah diminta lebih tegas dalam menindak sejumlah pedagang elektronik yang menaikkan harga jual secara spekulatif.

1 dari 1 halaman

Rupiah Melemah Pagi ini di Rp 16.500 per USD

pagi ini di rp 16500 per usd

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang ditransaksikan antar-bank di Jakarta pada awal pekan kembali tertekan menembus level Rp16.500 per USD. Pada pukul 09.53 WIB, rupiah bergerak melemah 590 poin atau 3,7 persen menjadi Rp16.550 per USD dari sebelumnya Rp15.960 per USD.

"Rupiah kemungkinan bisa tertekan lagi hari ini mengikuti sentimen negatif yang membayangi pergerakan aset berisiko pagi ini seperti indeks saham futures AS, indeks saham Australia, Nikkei (Jepang) dan Kospi (Korea Selatan) yang bergerak negatif serta sebagian mata uang Asia yang melemah terhadap dolar AS," kata Kepala Riset Monex Investindo Futures di Jakarta, dikutip Antara, Senin (23/3).

Menurut Ariston, kekhawatiran terhadap peningkatan penyebaran wabah virus corona ditambah dengan stimulus pemerintah AS senilai USD 1,3-2 triliun yang belum mencapai kata sepakat dengan senat AS, menjadi penyebab sentimen negatif tersebut.

WHO sendiri masih terus melaporkan peningkatan kasus penularan wabah virus corona di dunia dengan lebih dari 294 ribu positif. Sementara itu, pasar masih menunggu kabar kesepakatan stimulus pemerintah AS malam ini.

Bila sepakat, lanjut Ariston, bisa membantu memberikan sentimen positif ke pasar keuangan karena stimulus yang besar. "Pergerakan USD-IDR hari ini masih berpotensi untuk naik mendekati level tertinggi Juni 1998 di Rp16.850 dengan potensi support di kisaran Rp15.900," ujar Ariston.

[bim]

Baca juga:
Pasien Positif Corona Bertambah Jadi 579, Sembuh 30, Meninggal 49
Satu Karyawan BCA Positif Virus Corona
Pemerintah Percepat Impor Barang untuk Keperluan Penanggulangan Corona
Realokasi APBN Buat Corona, DPR dan Menkeu Sudah Rapat Video Conference
Perkuat Gugus Tugas, Jokowi Bentuk Anggota Pengarah, Penguatan Modal & Reaksi Cepat
Kisah Ciu, Miras Khas Banyumas Dijadikan Hand Sanitizer
Ini Gejala yang Akan Muncul pada Anak-Anak Bila Terinfeksi Virus Corona

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini