OJK Optimistis IHSG Rebound Meski BI Rate Naik ke 5,50 Persen
OJK melihat market sudah rebound setelah BI menaikkan suku bunga.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis pasar saham di Indonesia bakal kembali menguat (rebound). Setelah Bank Indonesia (BI) menaikan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 bps, dari 5,25 persen menjadi 5,50 persen.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, pihaknya bersama Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang tergabung dalam Komite Stabilisasi Sistem Keuangan (KSSK) terus mencermati situasi saat ini.
"Namun kalau kita lihat, teman-teman juga lihat ya hari ini kan market sudah rebound ya," ujar wanita yang akrab disapa Kiki tersebut di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Pergerakan Pasar Saham
Di sisi lain, ia turut memantau pergerakan pasar saham negara lain yang banyak mengalami penurunan. Semisal Bursa saham Korea Selatan (KOSPI), yang sempat menghentikan seluruh perdagangan (trading halt) pada 8 Juni 2026 pasca indeks anjlok lebih dari 8,5 persen.
"Di kita kemarin juga cukup dalam turunnya. Tapi hari ini alhamdulillah rebound. Dan kita lihat juga beberapa hal yang kemudian menjadi pertanyaan dari investor sudah disampaikan," imbuh dia.
Lebih lanjut, Kiki pun menyoroti upaya pembelian kembali atau buyback saham BUMN. "Kita melihat juga upaya untuk buyback saham ya, tanpa RUPS juga sudah mulai ada wacana untuk dilakukan. Jadi kita melihat ini sama-sama, yuk supaya market kita bisa kembali rebound," pintanya.
OJK Cermati Perbankan
Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bakal terus mencermati perbankan, usai adanya keputusan dari Bank Indonesia (BI) yang menaikan suku bunga acuan (BI Rate).
"Kita mencermati hal itu. Kita melakukan assessment terus ya," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi pada kesempatan sama.
Terkait kenaikan BI Rate untuk menjaga pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS, pihak otoritas juga bakal memantau ketahanan sektor jasa keuangan nasional. Terutama untuk bank yang punya exposure terhadap nilai tukar cukup banyak.
Pantau Lintas Sektor
"Misalnya kita lakukan assessment secara sektor maupun secara lintas sektor. Artinya keterhubungan antar sektor misalnya perbankan dengan pasar modal dan sebagainya, kita lihat secara cermat," ungkap wanita yang akrab disapa Kiki tersebut.
Menurut dia, kondisi sektor jasa keuangan nasional sejauh ini masih cukup terjaga. Hanya saja, OJK tak ingin lengah dengan situasi yang ada, seraya terus mencermati berbagai perkembangan terkini. Termasuk dampak gejolak geopolitik dari luar negeri.
"Moga-moganya sih semua membaik. Tapi kan ini juga kalau kita lihat kan memang Timur Tengah dan lain-lain. Ini banyak hal yang harus kita perhatikan. Semoga semuanya terkendali," kata Kiki.