OJK Ingatkan Pinjaman Online Mitigasi Risiko Kredit di Masa Pandemi

Selasa, 9 Maret 2021 14:44 Reporter : Anggun P. Situmorang
OJK Ingatkan Pinjaman Online Mitigasi Risiko Kredit di Masa Pandemi OJK. ©2013 Merdeka.com/Harwanto Bimo Pratomo

Merdeka.com - Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank OJK, Riswinandi mengingatkan jasa pinjaman online atau fintech mengenai potensi risiko akibat krisis akibat pandemi Covid-19 saat ini pada berbagai segmen ekonomi. Salah satu risiko utama yang harus dihadapi dan ditangani dengan benar terkait dengan risiko kredit.

"Pada kasus ini, eksposur risiko kredit berpotensi meningkat sehubungan dengan memburuknya kemampuan debitur untuk memenuhi kewajiban pembayaran kreditnya," ujar Riswandi dalam diskusi virtual, Jakarta, Senin (9/3).

Salah satu tanda peringatan dari meningkatnya eksposur risiko kredit adalah tingkat penurunan pembayaran kredit dalam waktu 90 hari, dari 96,35 persen pada Desember 2019 menjadi 95,22 persen pada Desember 2020. "Oleh karena itu, kami ingin mendorong pelaku industri untuk mengantisipasi risiko tersebut dengan menerapkan strategi mitigasi risiko yang komprehensif," imbuhnya.

Salah satu opsi yang layak untuk memitigasi risiko kredit, yaitu pemanfaatan asuransi dan penjaminan mekanisme untuk melindungi pemberi pinjaman dari kemungkinan default kredit. "Kami yakin bahwa pemain industri yang inisiatif untuk memitigasi risiko kredit dengan baik, akan dapat menjadi sebuah nilai tambah penting bagi pemberi pinjaman untuk berinvestasi di platform fintech lending," tandasnya.

Sebelumnya, Riswinandi mengatakan, hingga Desember 2020, jumlah pencairan pinjaman baru dari industri fintech lending tumbuh 26,47 persen secara tahun ke tahun. Bersamaan dengan itu, jumlah pemberi pinjaman dan peminjam juga tumbuh sebesar 18,32 persen dan 134,59 persen tahun ke tahun.

"Pencairan pinjaman dari industri fintech lending telah tumbuh 26,47 persen tahun ke tahun. Selanjutnya, jumlah akun pemberi pinjaman dan peminjam juga tumbuh sebesar 18,32 persen dan 134,59 persen tahun ke tahun," ujar Riswinandi dalam diskusi virtual, Jakarta, Selasa (9/3).

Menurut Riset e-Conomy South East Asia 2020 oleh Google, Temasek, dan Bain & Company, jumlah pengguna layanan berbasis internet di Indonesia tumbuh secara drastis sebesar 37 persen pada tahun 2020. Hal itu, sejalan dengan meningkatnya penggunaan informasi dan teknologi digital selama masa pandemi saat ini.

"Kami yakin bahwa industri fintech lending dapat memainkan peran yang lebih signifikan dalam peningkatan inklusi keuangan dan percepatan pertumbuhan ekonomi nasional," jelas Riswinandi. [azz]

Baca juga:
OJK Catat Jumlah Nasabah Pinjaman Online Tumbuh 134,59 Persen di Desember 2020
OJK Beberkan Perbedaan Pinjaman Online dengan Layanan Urun Dana
Beda dengan Fintech Lending, Pinjaman Online Dipastikan Ilegal
OJK Cabut Izin Terdaftar Fintech Pinjaman Online Telefin
Kekuatan dan Kelemahan Bisnis Pinjaman Online
CEK FAKTA: Waspada Penipuan Penawaran Pinjaman Melalui SMS

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini