Neraca Perdagangan Sulsel April 2026 Surplus Rp1,01 Triliun, Didominasi Nikel dan Gandum
Neraca Perdagangan Sulsel mencatatkan surplus signifikan sebesar Rp1,01 triliun per April 2026. Simak detail komoditas ekspor dan impor utama yang mendorong kinerja positif ini.
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) melaporkan bahwa neraca perdagangan Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) berhasil mencatatkan surplus signifikan hingga April 2026. Surplus ini mencapai 56,61 juta dolar Amerika Serikat, atau setara dengan Rp1,01 triliun berdasarkan kurs rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp17.698.
Kepala Kanwil DJBC Sulbagsel, Martha Octavia, mengungkapkan bahwa capaian positif ini merupakan hasil dari total nilai ekspor sebesar 141,50 juta dolar AS. Angka tersebut jauh melampaui nilai impor yang tercatat sebesar 84,89 juta dolar AS selama periode yang sama.
Kondisi ini menunjukkan aktivitas perdagangan luar negeri Sulawesi Selatan masih berada dalam tren yang menguntungkan. Meskipun demikian, beberapa komoditas unggulan mengalami fluktuasi harga dan permintaan di pasar global.
Kinerja Ekspor Unggulan Sulawesi Selatan
Komoditas mate nikel terus menjadi tulang punggung ekspor Sulawesi Selatan, menyumbang devisa terbesar dengan nilai mencapai 261,2 juta dolar AS. Kontribusi ini setara dengan 28,3 persen dari total ekspor Sulsel, menegaskan dominasinya di pasar internasional. Namun, komoditas ini mengalami sedikit penurunan sebesar 4,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain mate nikel, rumput laut juga menunjukkan performa yang solid, mencatat devisa ekspor sebesar 42,6 juta dolar AS. Angka ini berkontribusi 4,3 persen dari total ekspor dengan pertumbuhan positif sebesar 3,1 persen secara tahunan. Produk kakao juga tidak ketinggalan, mencatat kenaikan sebesar 7,3 persen dan nilai ekspor mencapai 39,3 juta dolar AS.
Di sisi lain, komoditas paduan fero tercatat sebesar 32,8 juta dolar AS meskipun mengalami penurunan yang cukup tajam hingga 75,2 persen. Sebaliknya, karagenan justru menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 15,3 persen, dengan nilai ekspor mencapai 25,7 juta dolar AS. Diversifikasi komoditas ini menunjukkan potensi besar Sulsel di berbagai sektor.
Tujuan Pasar Ekspor Utama
Jepang tetap menjadi negara tujuan ekspor utama bagi produk-produk Sulawesi Selatan, dengan nilai ekspor mencapai 277,25 juta dolar AS. Dominasi Jepang menunjukkan kuatnya hubungan dagang bilateral antara Sulsel dan negara tersebut.
China menyusul di posisi kedua sebagai pasar ekspor terbesar dengan nilai 136,39 juta dolar AS, diikuti oleh Amerika Serikat sebesar 20 juta dolar AS. Taiwan dan Vietnam juga menjadi mitra dagang penting, masing-masing dengan nilai ekspor 13,18 juta dolar AS dan 9,87 juta dolar AS. Keberagaman tujuan ekspor ini membantu mengurangi risiko ketergantungan pada satu pasar.
Komoditas Impor Utama dan Asal Negara
Di sektor impor, gandum menjadi komoditas terbesar yang masuk ke Sulawesi Selatan, dengan nilai mencapai 66,5 juta dolar AS. Angka ini merupakan 19,5 persen dari total impor Sulsel dan menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 28,7 persen secara tahunan. Kebutuhan akan gandum yang tinggi mencerminkan permintaan domestik yang stabil.
Komoditas impor penting lainnya termasuk minyak petroleum yang tercatat sebesar 49,1 juta dolar AS, dengan lonjakan pertumbuhan hingga 401,3 persen. Bungkil kedelai mencapai 45,6 juta dolar AS, gula sebesar 42,5 juta dolar AS, dan perangkat teknis khusus sebesar 38,1 juta dolar AS. Peningkatan impor minyak petroleum menunjukkan peningkatan aktivitas industri atau transportasi di wilayah tersebut.
China menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai 96,87 juta dolar AS, menunjukkan ketergantungan Sulsel pada produk-produk dari Tiongkok. Singapura menyusul dengan 56,16 juta dolar AS, Thailand sebesar 47,01 juta dolar AS, Brasil sebesar 46,22 juta dolar AS, dan Australia sebesar 45,06 juta dolar AS. Kemitraan impor yang beragam ini mendukung berbagai sektor industri dan konsumsi di Sulawesi Selatan.
Tren Kumulatif Perdagangan Luar Negeri
Secara kumulatif, devisa ekspor Sulawesi Selatan hingga April 2026 tercatat sebesar 0,53 miliar dolar AS, sementara devisa impor mencapai 0,35 miliar dolar AS. Data ini menggarisbawahi posisi Sulsel sebagai daerah dengan kinerja perdagangan yang kuat.
Martha Octavia menegaskan bahwa kondisi ini mencerminkan aktivitas perdagangan luar negeri Sulawesi Selatan yang masih berada dalam tren positif. Meskipun demikian, fluktuasi harga dan permintaan global pada sejumlah komoditas unggulan tetap menjadi perhatian. Optimisme tetap ada mengingat potensi dan diversifikasi produk yang dimiliki Sulsel.
Sumber: AntaraNews