Neraca perdagangan 2018 mulai surplus di Maret sebesar USD 1,09 miliar

Senin, 16 April 2018 13:37 Reporter : Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia Maret 2018 mengalami surplus USD 1,09 miliar. Di mana surplus itu terjadi karena nilai ekspor Indonesia pada Maret 2018 mencapai USD 15,58 miliar. Sementara itu, nilai impor Indonesia pada Maret 2018 mencapai USD 14,49 miliar.

"Alhamdulillah Maret ini terjadi surplus USD 1,09 miliar setelah kita defisit pada Januari dan Februari 2018," ujar Suhariyanto di Kantornya, Jakarta, Senin (16/4).

Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Maret 2018 terhadap Februari 2018 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar USD 358,9 juta (18,58 persen), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada timah sebesar USD 92,5 juta (45,25 persen).

Sedangkan peningkatan impor nonmigas terbesar Maret 2018 dibanding Februari 2018 adalah golongan mesin dan pesawat mekanik USD 286,9 juta (14,84 persen), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan mesin dan peralatan listrik sebesar USD 153,1 juta (9,19 persen).

Secara kumulatif, Suhariyanto mengatakan, neraca perdagangan selama Januari-Maret 2018 mengalami surplus sebesar USD 280 miliar. Total ekspor tercatat sebesar USD 44,27 miliar dan impor USD 43,98 miliar.

"Tentunya kita berharap ke depan ekspor semakin bagus, sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memprediksi neraca perdagangan Maret 2018 akan mengalami surplus. Hal ini setelah dalam 3 bulan terakhir neraca perdagangan Indonesia berada dalam kondisi defisit.

Sementara untuk transaksi berjalan (current account), surplus neraca perdagangan diharapkan akan memperbaiki defisit transaksi berjalan Indonesia yang dalam dua tahun terakhir mengalami perbaikan.

"CAD (current account defisit) kita sangat sambut baik bahwa di 2016 kan 1,8 persen dari GDP (gross domestic product), 2017 1,7 persen dari GDP. Kita melihat bahwa nanti kuartal I 2018 ada di kisaran 2 persen dari GDP. Memang agak sedikit meningkat transaksi berjalan tapi itu adalah karena impor yang bagus," jelas dia.

Menurut Agus, impor bahan baku dan bahan antara yang dilakukan selama ini menunjukkan geliat industri di dalam negeri. Hal ini memberikan indikasi positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

"Impor bahan baku dan bahan antara yang cukup meningkat untuk mengisi dan memenuhi kebutuhan manufakturing untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2018. Ini tentu sejalan dengan prakiraan kita bahwa transaksi berjalan di Indonesia kuartal I 2018 ada di kisaran 2 persen dari GDP, sepanjang tahun itu akan ada di bawah 2,5 persen dari GDP."

[bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini