Negara Berkembang Dinilai Lebih Cepat Pulih Dibanding Negara Maju

Kamis, 24 November 2022 17:07 Reporter : Merdeka
Negara Berkembang Dinilai Lebih Cepat Pulih Dibanding Negara Maju Menkeu Sri Mulyani. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, menyatakan perekonomian Indonesia sudah di atas pra pandemi level pada 2019. Hal ini ditunjukkan dari capaian pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi di atas 5 persen.

"Pada sisi pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi di Indonesia yaitu 5 persen berturut-turut selama empat kuartal, bahkan kuartal terakhir tahun lalu (2021) juga tumbuh di atas 5 persen. Maka perekonomian Indonesia sudah 6,6 persen diatas pra pandemi level yaitu tahun 2019," kata Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN KiTa November 2022, Kamis (24/11).

Dia menilai pemulihan perekonomian Indonesia relatif kuat dan cepat dibandingkan negara lain, bahkan beberapa negara lain yang pertumbuhan ekonominya masih lambat. Misalnya, Inggris disebut Menkeu sebagai salah satu negara yang paling lambat pertumbuhan ekonominya hingga sekarang.

Menurutnya, negara berkembang mampu pulih lebih cepat dibanding negara maju. Bahkan, negara maju lainnya seperti Thailand dan Jepang pertumbuhannya masih di bawah pra pandemi level tahun 2019.

"Inggris termasuk yang very-very late, sampai hari ini mereka hampir belum pulih pada level pra pandemi level," ujarnya.

Kinerja perekonomian Indonesia ditopang oleh faktor eksternal yaitu neraca perdagangan. Ekspor Indonesia terus-menerus mengalami pertumbuhan yang sangat tinggi. Ekspor pada bulan Oktober 2022 tercatat USD 24,8 miliar meningkat 12,3 persen year on year, kemudian secara akumulatif sebesar 30,97 persen (ytd), dan 0,13 persen (mtm).

"Kita lihat sampai dengan akhir oktober growth-nya (ekspor) 12,3 persen selalu double digit," ujarnya.

Kemudian, pada saat yang sama impor Indonesia juga meningkat pada Oktober 2022 yakni USD 19,1 miliar alias tumbuh 17,44 persen (yoy), dan secara kumulatif tumbuh 27,72 persen (ytd), namun menurun 3,40 persen (mtm). "Ini tentu yang menimbulkan suatu dinamika neraca perdagangan Indonesia," imbuhnya.

Surplus neraca perdagangan Oktober 2022 mencapai USD 5,7 miliar, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Tren surplus terus berlanjut hingga memasuki bulan ke-30. Menurut Menkeu ini hal yang baik, karena menimbulkan dampak yang positif terhadap perekonomian Indonesia.

Perkembangan positif tersebut dinilai dapat menimbulkan tambahan atau daya tahan terhadap perekonomian Indonesia di tengah gejolak perekonomian global. "Surplus dari neraca perdagangan ini secara kumulatif sudah mencapai USD 45,5 miliar Januari hingga Oktober. Ini jauh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang hanya USD 30,9 miliar," jelasnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
Sri Mulyani: Inflasi RI Relatif Baik Dibanding Negara Lain, tapi Harus Tetap Waspada
KTT G20 Sumbang Rp7,4 Triliun ke Ekonomi RI, Serap 33.000 Lapangan Kerja
Anggaran Kurang Fleksibel Buat Kinerja Pemerintah Tak Maksimal
Kawasan Ekonomi Jadi Upaya Pemerintah dalam Pemerataan Pertumbuhan
Ekonomi Digital RI Diyakini Mampu Kalahkan China
Buka Munas HIPMI, Jokowi Ingatkan Pengusaha Bangun Kepercayaan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini