Murka konglomerat muslim pada Donald Trump sulut perang AS dan Islam

Jumat, 11 Desember 2015 07:06 Reporter : Idris Rusadi Putra
Murka konglomerat muslim pada Donald Trump sulut perang AS dan Islam Donald Trump. ©businessinsider

Merdeka.com - Kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan mengejutkan yang membuat Umat muslim meradang. DT sapaan akrabnya berencana melarang orang beragama Islam masuk ke Amerika Serikat, dia seolah menyulut perang antara AS dan Islam.

Ujaran kebencian anti-Islam itu adalah respon pengusaha properti tajir ini atas penembakan massal di San Bernardino, California, pekan lalu yang menewaskan 14 orang. Serangan bermotif terorisme itu pelakunya pasangan suami-istri imigran muslim.

Trump menegaskan seandainya terpilih dalam pemilu tahun depan, dia serius menghentikan orang Islam untuk dapat masuk ke Negeri Paman Sam. Pelarangan itu, menurutnya, harus dilakukan dari pintu imigrasi darat, laut, maupun udara.

"Larangan (masuk) itu berlaku sampai kita bisa memutuskan dan mengerti permasalahan ideologi Islam dan ancamannya yang berbahaya. Negara ini tidak bisa menjadi korban serangan kaum percaya pada konsep Jihad dan tidak memiliki nalar untuk menghormati sesama manusia," ujar Trump dalam pernyataannya kepada awak media kemarin, seperti dikutip dari laman BBC, Selasa (7/12).

Banyak mendapat kecaman atas pernyataannya, Trump berdalih gagasan itu hanya meniru apa yang pernah dilakukan pemerintah Negeri Paman Sam pada Perang Dunia ke-II.

Trump berkaca pada peristiwa penyerangan Pangkalan Pearl Harbour oleh militer Jepang pada 7 Desember 1941. Selang beberapa hari seusai insiden itu, Pemerintah AS menahan semua orang Jepang yang berada di wilayahnya. Begitu pula warga Jerman ataupun Italia yang menjadi musuh sekutu. Lebih dari 110 ribu orang ditahan.

"Apa yang saya usulkan tidak berbeda dari kebijakan Presiden Franklin Delano Roosevert pada masa itu," kata Trump, seperti dilansir Kantor Berita Reuters, Rabu (9/12).

Trump melontarkan ide melarang muslim, baik mahasiswa, wisatawan, sampai pebisnis, masuk ke AS merespon penembakan massal di California. Trump, pengusaha properti yang sempat menghebohkan Indonesia karena berpidato mengajak Ketua DPR Setya Novanto dan Wakil Ketua DPR Fadli Zon, mengatakan maraknya serangan teror dilakukan pelaku berlatar muslim tak bisa dianggap remeh.

"Kita harus mencari tahu kenapa ada pihak dari golongan agama tertentu ingin meledakkan gedung-gedung kita, menghancurkan kota-kota kita," ujarnya.

Dalam bayangan Trump, kebijakan melarang muslim masuk ke wilayah AS bisa berlangsung sementara saja, asal sudah dipetakan secara jelas mana saja orang berpotensi melakukan teror. "Larangan ini bisa berlaku singkat, asal seluruh elemen bangsa kita bergerak cepat," kata Trump saat diwawancarai Televisi ABC tadi malam waktu setempat.

"Kebijakan ini juga tidak akan berlaku bagi warga muslim yang sudah menjadi warga negara AS, tapi sedang berkunjung ke luar negeri."

Namun demikian, ucapan Trump membuat umat muslim marah besar, termasuk konglomerat kaya Arab saudi. Berikut ulasan kemarahan konglomerat muslim pada Donald Trump:

1 dari 3 halaman

Konglomerat Arab menyesal dukung Donald Trump

Donald Trump. ©gawker

Orang kaya Arab, Khalaf Al Habtoor mengutarakan penyesalannya karena mendukung Donald Trump. Dia menyesal karena ternyata Trump 'menyerang' Islam dengan mengatakan akan melarang Muslim masuk ke Amerika Serikat.

"Saya dulu menulis artikel (di koran terkemuka) yang mendukung Donald Trump. Sekarang saya sudah muak dengan politisi ini, mereka telah menghancurkan Timur Tengah," ucap Al Habtoor seperti dikutip dari CNBC, Kamis (10/12).

Al Habtoor adalah ketua konglomerat Uni Emirat Arab di bawah naungan Al Habtoor Grup yang mempunyai dealer Aston Martin dan Bentley, serta hotel mewah di seluruh wilayah Dubai. Al Habtor juga membangun bandara di Dubai dan dia mengaku terkejut dengan komentar Trump yang melarang Muslim masuk Amerika Serikat.

"Ketika dia (Donald Trump) bicara tentang muslim, dia menyerang mereka. Saya harus mengakui bahwa saya membuat kesalahan karena mendukung Pak Trump. Dia menciptakan kebencian antara Muslim dan Amerika Serikat," tegasnya.

2 dari 3 halaman

Boikot produk Donald Trump

Donald Trump. ©businessinsider

Lifestyle, perusahaan ritel raksasa di Timur Tengah, melarang produk Donald Trump usai bakal calon presiden Amerika Serikat itu akan menutup Amerika dari penduduk muslim. Lifestyle bakal 'membuang' produk Trump dari 195 gerainya di Timur Tengah, Afrika Utara, Pakistan, dan Tanzania.

"Terkait pernyataan kandidat presiden Amerika itu (Donald Trump) di media AS, maka kami akan menghentikan penjualan semua produk dekorasi rumah milik Trump," ujar CEO Lifestyle, Sachin Mundhwa, seperti dilansir dari CNN Money, Kamis (10/12).

Pihak Trump belum bersedia memberikan komentarnya sejauh ini.

Trump melontarkan ide melarang muslim, baik mahasiswa, wisatawan, sampai pebisnis, masuk ke AS merespon penembakan massal di California. Peristiwa menewaskan 14 orang pekan lalu pelakunya adalah suami-istri imigran muslim dari Pakistan, Syed Farook (28) dan Tashfeen Malik (29). FBI mengatakan penembakan ini dilandasi motif teror.

3 dari 3 halaman

Trump hancurkan bisnisnya di negara mayoritas muslim

Donald Trump. ©2012 Merdeka.com

Komunitas pengusaha di Timur Tengah mengaku terkejut dengan pernyataan Trump. Bakal calon Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, belum lama ini memberikan pernyataan bakal melarang penduduk muslim masuk Amerika Serikat.

"Para muslim ini telah berinvestasi miliaran Dolar di Amerika dan membantu menciptakan pekerjaan bagi para penduduknya. Sungguh mengejutkan (ada komentar itu dari Trump)," tutur taipan properti Dubai, Khalaf Al-Habtoor, seperti dilansir dari CNN Money, Kamis (10/12).

Trump, menurutnya, telah menghasilkan jutaan Dolar baik dari bisnis golf hingga hunian mewah di negara di mana Islam menjadi agama mayoritas penduduknya.

"Saya pikir ini menghancurkan citra bisnisnya di negara Muslim. Tak akan ada lagi yang ingin bekerjasama dengannya," ujar Al-Habtoor yang sebelumnya merupakan pendukung Trump.

Sementara, sebagian pengusaha merasa tidak terpengaruh dengan pernyataan Trump. Pengembang DAMAC Properties mengatakan tetap memisahkan antara bisnis dan politik. [idr]

Baca juga:
Bos Amazon sebut bakal kirim Donald Trump ke luar angkasa
Aksi warga AS protes ucapan rasis Donald Trump terhadap muslim
Sindir Trump, Mark Zuckerberg janji muslim tak dilarang pakai FB
Fahri komentari Donald Trump: Dia bodoh dan dangkal
Bela muslim, Warga Inggris tolak Donald Trump masuk negaranya

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini