Misi Prabowo-Hatta, persempit jurang kaya-miskin

Kamis, 22 Mei 2014 11:57 Reporter : Wisnoe Moerti
Pemukiman Miskin. ©2013 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Meningkatnya harta kekayaan orang kaya tidak seiring sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan rakyat miskin di Indonesia. Bahasa mudahnya, orang yang kaya semakin kaya, yang miskin makin miskin.

Jurang antara si kaya dan si miskin di Indonesia semakin lebar dalam kurun waktu 1 dekade atau 10 tahun terakhir. Persis di era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Kabinet Indonesia Bersatu. Dengan sederet angka dari badan Pusat Statistik (BPS), Kabinet SBY mengklaim sukses menekan angka kemiskinan. Namun, dari data BPS juga, yang tidak bisa ditutupi adalah ketimpangan antara orang kaya dan orang miskin justru semakin lebar.

Indikatornya terlihat dari naiknya gini ratio. Dalam kurun 10 tahun terakhir, gini rasio BPS naik menjadi 0,41 persen dari sebelumnya sebesar 0,33 persen. Selain itu, Program Officer Kemiskinan dan Ketimpangan INFID Siti Khoirun Nimah pernah memaparkan data bahwa 10 persen orang kaya mengalami peningkatan pendapatan 12 kali lipat dibandingkan dengan 10 persen masyarakat miskin.

Persoalan jurang antara kaya-miskin ini mendapat sorotan dua pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yakni Prabowo - Hatta Rajasa dan Joko Widodo (Jokowi) - Jusuf Kalla (JK).

Dari kubu Prabowo-Hatta Rajasa, pasangan ini yakin mampu menekan jurang antara orang kaya dan miskin dengan menurunkan gini ratio dari 0,41 menuju 0,31 persen. Caranya dengan meningkatkan pemerataan dan kualitas pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan IPM dari sekitar 75 mencapai 85. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini