Meski butuh, Menteri Jonan pastikan tarif listrik energi baru terbarukan harus murah

Rabu, 13 September 2017 10:48 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Meski butuh, Menteri Jonan pastikan tarif listrik energi baru terbarukan harus murah Jonan bertemu calon investor EBT. ©2017 Merdeka.com/Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, mengatakan pemerintah terus mendorong pengembangan energi baru terbarukan dan terbuka pada setiap keinginan investasi swasta. Dia memastikan pemerintah akan tetap menjaga tarif listrik energi terbarukan murah sehingga dapat dijangkau masyarakat.

Menteri Jonan menceritakan bagaimana dirinya menolak pengusaha Belanda karena mengusulkan pembangunan listrik energi terbarukan namun dengan tarif mahal. Hal ini terjadi saat dirinya bertemu dengan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) dan pengusaha Belanda tersebut.

Pengusaha Belanda ini berencana mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut, di Selat Larantuka, Flores Nusa Tenggara Timur. "Gubernur NTT dengan pengusaha Belanda mengusulkan untuk membangun pembangkit tenaga listrik arus laut. Saya tanya berapa tarifnya, dia (pengusaha Belanda) bilang minimal USD 16 sen per kwh. Saya bilang kalau USD 16 sen, silakan minum dan silakan pulang," ungkapnya di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Rabu (13/8).

Menteri Jonan menolak tawaran tersebut sebab, menurut dia, biaya tersebut terlalu mahal. Dia memastikan pemerintah tengah mendorong pengembangan energi baru terbarukan, tapi dengan biaya yang dapat dijangkau masyarakat.

Oleh karena itu, dia meminta pengusaha tersebut untuk melakukan survei ulang. "Kalau dibawa USD 10 sen kita bisa diskusi, debat panjang, keliling kemana-mana, coba dicek lagi secara teknik bagaimana," kata dia.

Setelah pengecekan ulang dilakukan, calon investor tersebut kembali menemuinya untuk menyampaikan hasil survei terbaru. Di mana diperoleh biaya pokok produksi yang ditawarkan sebesar USD 7,18 sen per Kwh.

"Kemarin hari Selasa ke saya lagi, 'Pak kita mau tawarkan lagi kembali'. Dulu, studi pertama arus laut di Selat Larantuka studi pertama kecepatan rata-rata di bawah 2,8 meter per detik. Setelah studi lagi rata-rata di atas 4 meter per detik. Bahkan di beberapa lokasi titik mencapai 5 meter per detik," ujarnya.

Menteri Jonan mengatakan dia langsung setuju dengan tawaran tersebut. "Saya tanya, Biaya Pokok Produksinya berapa di NTT? Kita bisa 7,18. Saya bilang kalau 7,18 saya jamin PLN oke," ujar dia. [bim]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini