Meski Ada Demo Mahasiswa di Istana, IHSG dan Rupiah Ditutup Hanya Turun Tipis

Jumat, 16 Oktober 2020 16:11 Reporter : Anisyah Al Faqir
Meski Ada Demo Mahasiswa di Istana, IHSG dan Rupiah Ditutup Hanya Turun Tipis Pergerakan IHSG. ©2020 Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini ditutup terkoreksi 0,003 persen ke level 5.103,41. Nilai transaksi tercatat Rp 7,36 triliun. Asing melakukan penjualan bersih atau net sell Rp 464 miliar.

Selain itu, mata uang Rupiah juga ditutup melemah tipis 7 point. Padahal, pada sesi pagi sempat melemah 40 point dan ditutup di level 14.697 dari penutupan sebelumnya di level 14.690.

Dalam perdagangan minggu depan tepatnya hari Senin, mata uang Rupiah kemungkinan akan dibuka melemah. Meskipun sesi akhirnya ditutup menguat sebesar 5-40 poin di level 14.690-14.730.

Direktur PT.TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengatakan kondisi ini dipicu aksi demonstrasi para mahasiswa di depan Istana Negara. Aksi unjuk rasa ini ditujukan untuk menolak Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja yang baru disahkan pada 5 Oktober 2020 lalu.

Ibrahim menilai sebenarnya wajar bila mahasiswa melakukan demonstrasi. Sebab, dia menganggap mahasiswa belum memahami dengan baik regulasi tersebut.

"Karena para mahasiswa belum tahu tentang apa itu UU Omnibus Low Cipta Kerja yang sekarang sedang menjadi perbincangan di berbagai media baik nasional maupun internasional," kata Ibrahim kepada wartawan, Jakarta, Jumat (16/10).

Dia menyarankan agar Pemerintah terus melakukan sosialisasi tetang pentingnya UU Omnibus Low Cipta Kerja ini. Sebab, Indonesia memiliki sumber daya alam yang kaya. Sehingga diperlukan sebuah regulasi yang tidak tumpang tindih guna mendatangkan investor dari luar. Untuk itu, diperlukan ketentuan yang memudahkan investasi dan kepastian berusaha.

"Sangat disayangkan kalau UU Ciptaker baru lahir di era sekarang. Seharusnya, UU sapu jagat ini sudah mulai diterbitkan di era Presiden Soeharto," kata dia.

Alasannya, karena sistem perundang-undangan yang diakui bersifat sektoral. Namun masalah nasional yang dihadapi multi aspek, multi dimensi dan multi disiplin keilmuan. "Dengan UU Omnibus Low Cipta kerja mampu menjamin harkat dan martabat masyarakat Indonesia lebih baik dari sebelumnya," kata dia.

Secara bersamaan Bank Dunia ikut juga ikut memberikan pendapat terkait UU Omnibus Low Cipta Kerja. Lembaga keuangan internasional ini menilai beleid sapu jagad tersebut merupakan upaya reformasi besar-besaran untuk menjadikan Indonesia lebih berdaya saing dan mendukung aspirasi jangka panjang bangsa untuk menjadi masyarakat yang sejahtera.

Penghapusan pembatasan yang berat pada investasi menandakan bahwa Indonesia terbuka untuk bisnis. Sehingga, beleid tersebut dinilai dapat membantu menarik investor, menciptakan lapangan kerja dan membantu Indonesia memerangi kemiskinan.

Baca Selanjutnya: Pengaruh Eksternal...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini