Merpati di luar babak belur di dalam berselisih

Jumat, 13 Juli 2012 08:10 Reporter : Ririn Radiawati
Merpati di luar babak belur di dalam berselisih Merpati Airlines. Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Ramai pergantian Direktur Utama PT Merpati dari Sardjono Jhony Tjitrokusumo ke mantan Direktur Utama PT Indonesia Airlines Rudy Setyopurnomo oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan, yang sempat diwarnai isu ancaman pengunduran diri direksi dan pilot maskapai perintis ini. Namun, ancaman tersebut tidak dilakukan setelah ada pertemuan dengan manajemen.

Tak berselang lama, setelah pengangkatan orang pilihan Dahlan, Direktur Teknik Merpati, Wisudo, yang diangkat oleh Menteri Mustafa Abubakar, akhirnya mengundurkan diri karena mengaku kecewa dan tersinggung ungkapan atasan barunya yang dinilai menuduh  dia terlibat kasus korupsi di perusahaan pelat merah tersebut. Selain itu, dia enggan tes ulang untuk menduduki jabatan yang sama yang diminta atasannya.

Padahal, perusahaan pelat merah ini masih dalam keadaan terseok-seok dengan menumpuknya utang. Bahkan pada rapat kerja dengan DPR, Rudy meminta DPR segera memberikan dana penyertaan modal tambahan Rp 200 miliar untuk meningkatkan kinerja perusahaan yang dibangun 1962 tersebut. 

Rudi mengatakan jika dana PMN ini tidak dikucurkan, perseroan berpotensi merugi Rp 71 miliar pada tahun ini. Atas dasar itu pihaknya berharap anggota Komisi XI DPR dapat menyetujui dan menindak lebih lanjut perihal pengucuran dana ini. "Merpati bisa mempertahankan sustainibility operasi perusahaan pada tahun 2012," janji Rudy ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (21/6)

Menteri BUMN Dahlan Iskan mengaku jika BUMN penerbangan ini sudah tidak sehat karena utang yang banyak. Hingga kuartal pertama tahun ini, utang Merpati telah tercatat sebesar Rp 250 miliar dengan tambahan bulan April Rp 100 miliar. "Merpati ini ratusan miliar terus digrojok (di beri bantuan dana). Masa rakyat mau, uangnya dipakai terus untuk Merpati," katanya, Selasa (22/5).

Dahlan pernah mengungkapkan jika direksi BUMN harus kompak. Jika tidak kompak, maka akan dipecat seperti direksi PT Biro Klarifikasi Indonesia. "Aku enggak ngerti kenapa mereka berkelahi, pokoknya saling berkelahi. Dulu saya sudah omongkan direksi harus kompak," ujarnya menjawab pertanyaan wartawan kenapa ada pemecatan direksi BKI.

Bahkan kasus korupsi perusahaan pelat merah yang melibatkan mantan Direktur Utama, Hotasi Nababan dan mantan General Manager PT MNA, Tony Sudjiarto mulai disidangkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kamis (5/7). 

 

[arr]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Kasus Korupsi
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini