Menteri Susi: Kuasai Pasar AS, Tapi Tuna Indonesia Susah Masuk Eropa

Senin, 14 Oktober 2019 14:47 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
Menteri Susi: Kuasai Pasar AS, Tapi Tuna Indonesia Susah Masuk Eropa Menteri Susi Pudjiastuti. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Asia Tenggara dikenal sebagai sumber ikan tuna. Namun sayangnya, eksportir Tuna terbesar ke Eropa dari kawasan ini adalah negara Thailand, bukan Indonesia.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti mengungkapkan beberapa fakta di balik hal ini. Salah satunya sumber ikan tuna yang diekspor oleh negara Gajah Putih tersebut.

Menteri Susi mengungkapkan, sebetulnya Indonesia bisa menjadi penguasa pasar tuna di Eropa. Namun tuna Indonesia kesulitan menembus pasar Eropa sebab tingginya bea masuk yang dikenakan yakni sebesar 20 persen.

Oleh sebab itu, Indonesia banyak mengekspor Tuna ke Thailand untuk kemudian dijual lagi ke Eropa. Sehingga Eksportir tuna di Eropa adalah Thailand.

"Ekspor kita ke Thailand juga naik jadi Thailand tuh impor dari kita. Nah ini lebih dari 800 persen kenaikan ekspor ke Thailand, jadi yang penting adalah originnya Indonesia tetap lebih banyak," kata dia di kantornya, Senin (14/10).

Kendati demikian, Menteri Susi tidak khawatir sebab secara global Indonesia masih merupakan negara eksportir tuna kedua terbesar setelah China, Sementara di Amerika Serikat (AS) pasar tuna berhasil dikuasai sepenuhnya oleh Indonesia.

"Jadi sebetulnya kalau dunia kita sudah nomor 2 setelah China, kalau di AS kita nomor 1," ujarnya.

1 dari 1 halaman

Lobi Eropa

Menteri Susi mengungkapkan pihaknya juga telah melobi bahkan mengancam Eropa untuk menurunkan bea masuk tuna yang saat ini dikenakan yaitu 20 persen. Namun rupanya hal itu belum membuahkan hasil sebab Indonesia dianggap sebagai negara kaya karena tergabung dalam G20. Eropa memandang Indonesia tidak layak menerima keistimewaan tarif bea masuk 0 persen seperti yang dinikmati oleh Vietnam dan Thailand.

Mirisnya, Vietnam dikenal sebagai negara perongrong atau pencuri ikan (ilegal fishing) di wilayah laut Indonesia.

"Masa negara yang curi ikan dapat 0 persen, Indonesia yang dicuri dapat 20 persen. Jadi produk kita tidak bisa masuk Eropa karena terlalu mahal jadinya. Produk kita plus 20 persen, Vietnam 0 persen," ujarnya.

Sementara itu, di AS tuna Indonesia mendominasi sebab negara Paman Sam tersebut membebaskan bea masuk tarif tuna asal Indonesia.

Menteri Susi mengungkapkan kemurahan hati AS tersebut sebagai apresiasi atas langkah-langkah Indonesia dalam memerangan ilegal fishing.

"AS sejak 2015 sudah bebaskan impor tarif karena kita perangi ilegal fishing. Mereka mau membebaskan (bea masuk) tanpa perundingan bertele-tele. Sejak 2015 itu kita rata-rata ekspor USD 500 juta lebih (ke AS)," ungkapnya.

Sedangkan untuk Eropa masih harus dilakukan perundingan-perundingan lebih jauh lagi oleh Kementerian Perdagangan dan Kementerian Luar Negeri agar bea masuk 20 persen tersebut dapat dihapuskan.

"Harus ada perundingan Mendag, Menlu. Saya ngomelin (Eropa) iya, ngancam agar mau untuk turunkan tarif kita," tutupnya. [idr]

Baca juga:
KKP: Masa Depan Laut Indonesia Ditangan Milenial
Ribuan Ikan Mati di Teluk Manila
Menteri Susi Heran Pengusaha Tak Setuju Regulasi KKP
Ikan Sidat Langka, Menteri Susi Dorong Rakyat Perangi Penyelundup Benih
Kenalan dengan Aquascape dan Serba-Serbi Perikanan di Aquafest 2019
Menteri Susi Harap Aturan Asing Dilarang Tangkap Ikan Tak Direvisi

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini