Menteri ESDM: Kuota Solar Subsidi Belum Habis

Senin, 18 November 2019 14:37 Reporter : Merdeka
Menteri ESDM: Kuota Solar Subsidi Belum Habis Menteri ESDM Arifin Tasrif. ©2019 Liputan6.com/Pebrianto Eko Wicaksono

Merdeka.com - Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan kuota solar subsidi pada 2019 masih cukup‎ untuk memenuhi konsumsi hingga akhir tahun. Masyarakat pun diminta untuk tidak khawatir.

Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif mengatakan, ‎saat ini kuota solar subsidi belum habis, penyaluran yang dilakukan PT Pertamina pun masih berjalan normal.

"Engga kok (sudah habis).‎ Masih oke," kata‎ Arifin di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (18/11).

Pelaksana tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Djoko Siswanto menambahkan, kuota solar masih cukup hingga akhir tahun. Berdasarkan data penyaluran, sampai Oktober 2019 kuota solar subsidi telah‎ disalurkan sebanyak 13,3 juta Kilo Liter (KL), sedangkan alokasi kuota solar yang tercantum dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2019 sebesar 14,5 juta.

‎"Sampai hari ini kuotanya masih ada, sampai Oktober 13,3 juta KL masih 1,2 juta‎ KL," ujarnya.

‎Menurut Djoko, jika konsumsi solar subsidi ‎sudah melebihi kuota maka penyaluran solar subsidi tetap dilakukan untuk menghindari kelangkaan, kelebihan penyaluran solar subsidi akan dibayar pemerintah setelah melalui audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

"Kalau kuotanya kurang dalam aturan perundang-undangan, pokoknya kebutuhan masyarakat berapapun harus terpenuhi supaya tidak ada kelangkaan. kalau nanti setelah diperiksa BPK ada kelebihan ya dibayar," tandasnya.

1 dari 2 halaman

Sopir Truk Rela Tidur di SPBU untuk Beli Solar

Sejumlah sopir truk rela tidur di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Agam, Sumatera Barat untuk mengantre demi mendapatkan solar. Bahan bakar ini diperlukan agar usahanya tetap jalan pasca-langkanya jenis bahan bakar tersebut sejak sebulan terakhir.

Salah seorang sopir, Suhatril (67) di Lubukbasung mengatakan, dia mengantre di SPBU Gunung Sago Lubukbasung semenjak Kamis (14/11) sekitar pukul 10.00 WIB.

"Saya terpaksa tidur di atas mobil saat antre di SPBU Gunung Sago demi mendapatkan solar, karena BBM di mobil sudah habis dan mobil tidak bisa jalan," katanya.

Dia mengakui sudah tiga kali tidur di mobil saat antre di SPBU setelah solar langka semenjak sebulan lalu.

Hal ini dilakukan demi mendapatkan solar, dan apabila tidak antre, maka tidak akan mendapatkan solar. "Minyak datang satu kali dalam dua hari, dan saya terpaksa tidur di SPBU Gunung Sago demi mendapatkannya," katanya.

2 dari 2 halaman

Tidur Gunakan Terpal

Sementara sopir truk lainnya Wardi (44) menambahkan pihaknya beserta sopir lainnya tidur di taman SPBU Gunung Sago menggunakan terpal plastik.

"Kami tidur secara bersama-sama di terpal yang sengaja dibawa dari rumah. Saat waktu makan datang, nasi kami beli ke rumah makan terdekat dan kami makan bersama-sama," katanya.

Wardi berharap pemerintah bisa mengatasi kelangkaan solar secepat mungkin, agar usahanya menjual jagung untuk pakan ikan berjalan dengan baik, karena solar kebutuhan dasar untuk kendaraan diesel.

Apabila solar tidak ada, tambahnya, maka mobil tidak bisa jalan untuk membawa jagung, material bangunan, membawa penumpang dan sopir lain. "Saat pengiriman jagung secara mendesak, saya terpaksa membeli solar eceran dengan harga Rp8.000 sampai Rp10.000 per liter," kata dia. [idr]

Baca juga:
Sopir Truk Rela Tidur di SPBU Demi Dapatkan Solar
Pemerintah Jamin Pasokan Solar Subsidi Tetap Lancar
Ini Keuntungan Gunakan Solar Pertamina Dex Cs untuk Kendaraan
YLKI Sebut Pembatasan Konsumsi Solar Tak Berdampak Kurangi Polusi
BPH Migas Cabut Pembatasan Solar Subsidi, Ini Tanggapan Pertamina
Stok Solar Subsidi Diprediksi Habis November, Apa Solusi Pemerintah?

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini