Menteri Bahlil: Jokowi Punya Cara Baru Hadapi Krisis, Tak Lazim di Negara Lain

Kamis, 8 Desember 2022 16:30 Reporter : Merdeka
Menteri Bahlil: Jokowi Punya Cara Baru Hadapi Krisis, Tak Lazim di Negara Lain Kepala BKPM Bahlil Lahadalia. ©2020 Merdeka.com/Anisyah Al Faqir

Merdeka.com - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia menyebut bahwa tak ada cara khusus dalam menghadapi krisis. Termasuk dalam upaya menekan inflasi yang menjadi momok berbagai negara di dunia saat ini.

Menurut Bahlil, Presiden Joko Widodo membawa salah satu cara baru dalam mengendalikan tingkat inflasi. "Jujur saya katakan bahwa soal negara dalam keadaan krisis, ini tidak ada rumusnya, rumusnya itu adalah disaat tiba akal dengan mengedepankan kemampuan koordinasi dan kepemimpinan yang kuat," kata dia dalam Rilis Survei Nasional Proyeksi Ekonomi Politik Nasional di YouTube Poltracking Indonesia, Kamis (8/12).

"Di mana Pak Jokowi dalam membangun membawa kami hampir semua tim ekonomi itu selalu ada cara baru," sambung Bahlil.

Sebagai salah satu contoh adalah cara pemerintah dalam mengendalikan inflasi. Biasanya, kewenangan pengendalian inflasi ada di level makro dengan bank sentral yang mengatur tingkat suku bunga. Namun kali ini Indonesia mengambil cara berbeda dengan melirik di sisi mikro melalui identifikasi komoditas yang berperan dalam mengerek tingkat inflasi. Misalnya kenaikan harga bawang dan cabai yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.

"Kemudian diambil caranya, oke ambil di tempat yang sumber bawang smaa cabai tapi logistiknya transportasinya ditanggung APBD, ini rumus baru. Ini rumus tak lazim yang dilakukan oleh kepala negara sebelumnya," papar Bahlil.

Bagi Bahlil, cara ini adalah salah satu cara baru atau out of the box. Ini juga menunjukkan karakteristik salah satu pemimpin negara dalam menyikapi dinamika kondisi negara secara periodik.

"Maksud saya adalah ini cara berpikir out of the box dan pemimpin dalam menyikapi perkembangan dinamika kondisi negara yang setiap minggu setiap bulan setiap tahun itu selalu berubah. Maka dibutuhkan intuisi dan leadership," tegasnya.

2 dari 2 halaman

18 Negara Pasien IMF

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengungkap ada 18 negara yang meminta bantuan ke Dana Moneter Internasional (IMF). Menurutnya sudah ada 28 negara lagi yang mengantre untuk tujuan yang sama.

Bahlil mengatakan, kenyataan itu jadi salah satu bukti kalau ekonomi dunia sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Ini juga menyoal anggapan yang diterimanya soal pemerintah menakut-nakuti kondisi ekonomi global.

"Pertama persoalan covid-19, perang Ukraina-Rusia, persoalan baru dan sekarang sudah ada 18 negara yang sudah masuk pasien IMF, 18 naik jadi 28 negara yang sudan antre dan dampaknya kemana-mana," ujarnya dalam Rilis Survei Nasional Proyeksi Ekonomi Politik Nasional di YouTube Poltracking Indonesia, Kamis (8/12).

Bahlil menyayangkan ada pihak-pihak yang menilai pemerintah menakut-nakuti kalau kondisi ekonomi global sedang tidak baik. Baginya, informasi yang disampaikan adalah satu cara untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan.

"Pemerintah tak pernah menakut-nakuti siapapun, jadi jangan ada satu pemikiran, persepsi bahwa ketika pemerintah menyampaikan kondisi ekonomi global itu kaitannya menakut-nakuti. Justru pemerintah menyiapkan segala sesuatu alternatif ketika kondisi-kondisi ini terjadi," paparnya.

"Tunjukan kepada saya yang bisa menjamin, pakar ekonomi siapa atau tokoh siapa yang bisa menjamin kondisi ekonomi global akan baik-baik saja? Kenapa semua lembaga dunia mengatakan bahwa ekonomi global tidak dalam kondisi yang baik-baik saja atau gelap, lembaga keuangan dunia pun menyatakan demikian dan itu ada dasarnya," sambung Bahlil.

Berbagai proyeksi dari lembaga internasional termasuk jumlah pasien IMF tadi, menurut Bahlil sudah cukup jadi bukti kalau ekonomi dunia sedang dalam kondisi krisis. Mengacu data-data tadi, Bahlil menekankan kalau itu merupakan hal yang objektif. [idr]

Baca juga:
Industri Transportasi dan Logistik Online Tangguh Saat Ekonomi Bergejolak
UMKM Jadi Penopang Ekonomi, dari Krisis 1998 Hingga Pandemi Covid-19
Ekonomi Gelap, Jokowi Ingatkan Anak Buah Singkirkan Ego Sektoral
OJK: Resesi 2023 Dialami Negara Maju, Bukan Indonesia
Solusi Investasi di Tengah Ancaman Resesi, Kepastian imbal Hasil 3,1 Persen dalam USD
Krisis Ekonomi Global, Perusahaan Startup Diminta Tak Latah PHK Karyawan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini