Menkop Teten Kembali Aktifkan Koperasi Kopi untuk Tembus Pasar Ekspor

Minggu, 21 Juni 2020 17:00 Reporter : Merdeka
Menkop Teten Kembali Aktifkan Koperasi Kopi untuk Tembus Pasar Ekspor Menkop UKM Teten Masduki Tinjau Perkebunan Biji Kopi. ©2020 Liputan6.com/Tira Santira

Merdeka.com - Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki menegaskan bahwa sektor pertanian dan perkebunan sudah bisa direlaksasi untuk diaktifkan kembali kegiatan usahanya di tengah pandemi Covid-19.

"Saya ingin melihat langsung dan memastikan reaktivasi kegiatan usaha KUKM bisa berjalan", kata Teten dalam keterangannya, Minggu (21/6).

Teten menyebut, salah satu produk kopi yaitu dari koperasi Klasik Beans merupakan salah satu yang terbaik di dunia, dan sudah menembus pasar mancanegara. Dia meyakini, dengan tingkat konsumsi kopi dalam negeri yang terus meningkat, produk kopi nasional juga bisa diserap pasar dalam negeri.

Artinya, dengan pasar yang amat luas dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa, pendapatan nasional dari produk kopi tidak perlu lagi bergantung pada ekspor.

"Meski ekspor kopi tetap akan menjadi bagian penting, karena kopi akan terus menjadi komoditi unggulan Indonesia," ujarnya.

Namun, Teten berharap protokol kesehatan tetap dijalankan dengan disiplin. Dunia usaha kembali dijalankan dengan tidak mengabaikan protokol kesehatan.

Selain itu, dalam kesempatan yang sama, Ketua Koperasi Klasik Beans Deni Glen menjelaskan, koperasi yang berdiri pada 2011 sudah memiliki binaan sekitar 3000 petani kopi yang tergabung dalam Paguyuban Tani Sunda Hejo.

"Hasil panen kopi petani dibeli koperasi untuk diolah menjadi biji kopi mentah atau green beans," kata Glen.

Glen menambahkan bahwa Koperasi Klasik Beans memiliki banyak shelter kopi di Jawa Barat. Di antaranya, di Garut (ada tiga), Ciwidey (ada dua), Gunung Puntang, Pangalengan, Ujungberung, Bandung Utara, dan Cianjur. Sedangkan di luar Jabar, shelter Klasik Beans ada di Kintamani (Bali), Flores, Enrekang (Sulsel), Lintong (Medan, Sumut), dan Takengon (Aceh).

"Sebelum pandemi Covid-19, kami memiliki kapasitas produksi sebanyak 5-8 ton green beans perbulan, khusus untuk pasar nasional. Untuk yang pasar ekspor, per musim kita menghasilkan 60 ton, dimana dalam setahun ada satu kali musim," ujar Glen.

2 dari 2 halaman

Pasar Ekspor

rev2

Selanjutnya Glen juga menyampaikan, brand produk Kopi Sunda Hejo, Klasik Beans mampu menembus pasar ekspor ke negara-negara seperti Prancis, Jepang, Australia, Swiss, dan sebagainya. Produk kopinya juga salah satu yang dibeli Starbucks.

Bahkan, pihaknya memiliki hari istimewa yang dinamakan Hari Petani. Di hari itu, seluruh petani binaan Klasik Beans mendapatkan premi dari koperasi. Menurutnya, uang yang pihaknya sisihkan dari setiap kilogram kopi yang mereka jual ke koperasi, semacam produk tabungan yang akan dibagikan kembali ke petani sesuai kilogram kopi yang sudah dijualnya.

Hanya saja, Glen mengakui bahwa selama pandemi Covid-19 berdampak besar pada usaha kopinya. Banyak kedai kopi yang tutup, termasuk yang untuk pasar dunia. Penghasilannya drop hingga 95 persen.

Meski begitu, Klasik Beans tetap komitmen membeli hasil panen kopi dari para petani. Dengan sulitnya kopi terserap pasar, maka Klasik Beans pun mau tidak mau harus menambah gudang.

"Kita semua berharap pandemi Covid-19 segera berlalu, agar pasar kopi nasional dan dunia kembali bergairah", pungkas Glen.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com [idr]

Baca juga:
Adaptasi Bisnis Kedai Kopi di Tengah Corona ala Klinik Kopi Yogyakarta
Sensasi Ngopi sambil Menikmati Pemandangan Kuningan di Waja Kopi
Mengenal Kopi Sidikalang, Rajanya Kopi Sumatera yang Jadi Primadona
Menperin Agus Gandeng Platform Digital Selamatkan Industri Kopi Tanah Air
Kopi Lokal Lebih Populer di Luar Negeri Dibanding di Indonesia
Meski Penghasil Terbesar Dunia, Kopi Impor Masih Banjiri Indonesia

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini