Menko Darmin beberkan alasan Rupiah tetap stabil meski suku bunga The Fed naik

Kamis, 27 September 2018 12:57 Reporter : Anggun P. Situmorang
Menko Darmin beberkan alasan Rupiah tetap stabil meski suku bunga The Fed naik idr rupiah. shutterstock

Merdeka.com - Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin atau 0,25 persen menjadi 2,25 persen. Kenaikan suku bunga ini ternyata tidak membuat nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali terkapar.

Mengutip data Bloomberg, Rupiah pagi ini dibuka di level Rp 14.920 atau sempat melemah dibanding penutupan perdagangan kemarin di RP 14.910 per USD. Namun, usai pembukaan Rupiah langsung bergerak menguat. Saat ini, Rupiah berada di level Rp 14.899 per USD.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, penguatan Rupiah ini karena pasar sudah memprediksi kenaikan suku bunga bank sentral AS. Selain itu, pasar juga sudah memprediksi langkah yang akan diambil oleh Bank Indonesia merespon kenaikan suku bunga AS.

"Karena memang sudah diprediksi orang apa yang akan terjadi, di AS itu. Sama kemudian respons yang disiapkan oleh BI dan pemerintah," ujar Menko Darmin singkat di Hotel Raffles, Jakarta, Kamis (27/9).

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah secara terus menerus telah mengkomunikasikan kepada pasar bahwa kondisi ekonomi dalam negeri saat ini cukup kuat menghadapi perubahan suku bunga AS.

"Kita kan sudah komunikasi secara terus menerus, bahwa perubahan policy The Fed akan datang. Akan terjadi. Kemudian kita juga mengkomunikasikan kepada perekonomian APBN kita yang sangat sehat," jelasnya.

Dia menjelaskan, ekonomi Indonesia cukup fleksibel, lentur dan kuat untuk menghadapi perubahan kondisi ekonomi global tanpa harus mengakibatkan seluruh ekonomi dalam negeri mengalami perubahan yang cukup drastis.

"Perubahan diluar perekonomian, kan bukan kita yang mengontrol tapi Federal Reserve. Tapi perekonomian Indonesia cukup fleksibel, lentur dan cukup memiliki daya tahan resilience untuk mengabsorp perubahan itu tanpa harus menyebabkan seluruh kegiatan ekonomi kemudian mengalami perubahan yang sangat drastis," jelasnya.

Sebelumnya, The Fed menyatakan telah mengakhiri era kebijakan moneter yang akomodatif dan masih menaikkan suku bunga pada Desember mendatang. Tak hanya itu, suku bunga acuan akan naik tiga kali lagi pada tahun depan, dan satu peningkatan pada tahun 2020.

"Hal yang orang-orang perhatikan, yang mereka lakukan dan lakukan, adalah menghapus kata 'akomodatif' sehubungan dengan kebijakan moneter mereka," kata Michael Arone, Chief Investment Strategist di State Street Global Advisors.

"Ini tampaknya berpotensi mengindikasikan bahwa mereka percaya kebijakan moneter menjadi kurang akomodatif dan semakin mengarah ke tingkat netral." [azz]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini