Menkeu Sri Mulyani Sentil Dana Otsus Tak Perbaiki Harapan Hidup Warga Papua

Selasa, 26 Januari 2021 15:17 Reporter : Anisyah Al Faqir
Menkeu Sri Mulyani Sentil Dana Otsus Tak Perbaiki Harapan Hidup Warga Papua Menkeu Sri Mulyani. ©2020 Istimewa

Merdeka.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menilai, penggunaan dana otonomi khusus (otsus) Papua dan Papua Barat masih belum maksimal untuk sektor kesehatan. Tercermin dari tingkat harapan hidup dalam 10 tahun terakhir masih belum mendekati rata-rata nasional meskipun mengalami perbaikan tiap tahunnya.

"Dilihat dalam 10 tahun tidak makin mendekat, gap nya tetap lebar dan tidak terjadi perbaikan," kata Menteri Sri Mulyani dalam Rapat Kerja Komite I DPD RI secara virtual, Jakarta, Selasa (26/1).

Dalam 10 tahun terakhir, delta tingkat usia harapan hidup nasional berada di angka 0,17 per tahun. Sementara, di Papua deltanya 0,15 per tahun dan di Papua Barat deltanya 0,14 per tahun.

"Rata-rata peningkatan tingkat umur harapan hidup Papua dan Papua Barat lebih rendah dari nasional. Artinya kalau diperpanjang akan lebih lebar (kesenjangan dengan rata-rata nasional)," kata dia.

2 dari 2 halaman

Kinerja Samai Provinsi yang Tak Mendapat Dana Otsus

provinsi yang tak mendapat dana otsus

Dari tingkat persalinan yang ditolong tenaga medis, pada 2018, Papua bahkan berada di posisi paling bawah yakni sebesar 59 persen di antara provinsi lainnya.

Begitu juga dengan Papua Barat yang persentasenya selalu berada di bawah rata-rata nasional. Posisi dua provinsi ini hampir sama dengan NTT dan Kalimantan Timur (Kaltim) yang tidak mendapatkan dana otsus.

"Padahal NTT dan Kaltim ini tidak mendapatkan dana otsus, tetapi kinerjanya tidak jauh berbeda," ungkap Menteri Sri Mulyani.

Secara nasional, perbaikan dalam tingkat persalinan yang ditolong tenaga kesehatan mengalami perbaikan dengan delta 0,73 per tahun. Tren yang terjadi di Papua dan Papua Barat memang berada di posisi masing-masing 1,42 per tahun dan 1,65 per tahun.

Dilihat dari alokasi dana otsus tahun 2019, Papua Barat hanya mengalokasikan 18,11 persen sedangkan Papua Barat lebih rendah yakni 15,11 persen. Sehingga penggunaan dana otsus untuk sektor kesehatan dinilai belum optimal.

"Belanja dana otsus belum optimal untuk kesehatan," kata dia.

Hal yang sama juga terjadi pada APBD dan anggaran belanja kementerian/lembaga di tahun yang sama. Keduanya belum signifikan digunakan untuk mendanai urusan kesehatan.

[bim]

Baca juga:
Kista adalah Benjolan di Bawah Kulit Berisi Cairan atau Udara, Ketahui Penyebabnya
Dorong Pemulihan Ekonomi, OJK Siap Beri Insentif Sektor Kesehatan Hingga 2022
Combiphar Akuisisi Air Mancur Group
Indonesia-China Sepakat Bangun Rumah Sakit Internasional
Bantu Tenaga Medis, Lulusan Perawat Bakal Dipermudah untuk Bekerja

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini