Mengupas akar berkembangnya restoran cepat saji di dunia

Jumat, 20 Juli 2018 07:00 Reporter : Siti Nur Azzura
Mengupas akar berkembangnya restoran cepat saji di dunia

Merdeka.com - Restoran cepat saji atau yang biasa dikenal fast food sudah melekat dibenak setiap orang di berbagai belahan dunia. Rasanya yang nikmat dan harganya yang murah selalu berhasil menarik banyak orang untuk datang.

Sebuah laporan penelitian terbaru yang diinisiasi oleh Institute for Development Studies and Oxfam berjudul "Precarious Lives: Food, Work and Care After the Global Food Crisis" mengungkap sejumlah fakta mengejutkan menyangkut kebangkitan restoran siap saji dan makanan olahan di negara-negara yang dihantam krisis makanan global yang mulai terasa satu dekade ke belakang.

Dikutip Vice, dengan meneliti harga makanan dan jumlah pendapatan warga di Kenya, Bolivia, Indonesia, Pakistan, Vietnam dan Zambia, para periset penelitian tersebut mampu menarik kesimpulan bahwa industri restoran siap saji justru bangkit saat daya beli menurun.

Dalam kurun waktu antara 2007 dan 2011, harga bahan makanan dasar seperti jagung, beras dan gandum meningkat secara drastis. Imbasnya, banyak warga yang tinggal di negara-negara yang disebut di atas terpaksa mengatur kembali pekerjaan dan pola makan mereka. Artinya, sejumlah orang terpaksa mengambil pekerjaan yang berbahaya, perempuan dipaksa untuk bekerja dan munculnya kebutuhan untuk menyediakan makanan secara konsisten bagi anak-anak mereka.

Harga makanan akhirnya mengalami penyesuaian di beberapa negara ini, namun minat terhadap makanan siap saji yang murah tetap tinggi. Dengan demikian, menurut laporan penelitian tersebut, penduduk negara-negara tersebut sudah kadung mengalami pergeseran budaya yang signifikan.

"Anak dan remaja adalah pangadopsi paling awal segala macam makanan olahan yang dianggap lezat, menyenangkan, trendy dan umumnya bikin kecanduan," tulis laporan tersebut.

Meski demikian, bukan berarti tak ada kekhawatiran dalam masyarakat negara-negara di atas menghadapi populernya makanan siap saji. Hasil penelitian terhadap satu focus group di Lusaka, Zambia memperlihatkan bahwa konsumen remaja umumnya sadar akan dampak negatif makanan olahan.

"Makanan seperti kentang goreng dan pizza menyebabkan penyakit-penyakit konyol seperti diabetes dan tekanan darah tinggi," kata salah satu responden penelitian.

Sayangnya, selain menawarkan kepraktisan ala barat, makanan siap saji juga menyebatkan naiknya kandungan lemak, gula hingga garam serta kemungkinan munculnya masalah kesehatan baru di negara-negara di mana makanan tak lebih dari sekadar cara untuk bertahan hidup.

"Laporan ini adalah peringatan bagi kita akan adanya risiko tertentu yang disebabkan oleh globalisasi terhadap hubungan antara pekerjaan dan makanan. Di samping itu, hasil penelitian ini mempertanyakan pilihan-pilihan kita dan cara kita meresponnya," demikian tertulis dalam kesimpulan penelitian tersebut.

Lebih jauh, para peneliti menyarankan agar upaya regulasi industri makanan siap saji harus segera diambil supaya makanan buruk, pekerjaan yang berbahaya serta tak manusiawi dan kecenderungan untuk mengkonsumsi makanan seadanya tak lagi dianggap sebagai elemen penting dalam ketahanan menghadapi perkembangan ekonomi global. [azz]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini