Mengintip tempat kelahiran kereta terbaik se-Asia Tenggara

Jumat, 22 Maret 2013 13:26 Reporter : Ardyan Mohamad
Mengintip tempat kelahiran kereta terbaik se-Asia Tenggara PT INKA. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Di pusat Kota Madiun, Jawa Timur, hanya lima menit dari Stasiun Besar, kita akan langsung sampai di ruas Jalan Yos Sudarso. Di sisi kanan jalan, terlihat gerbang besar bertuliskan PT Industri kereta api (Persero) dengan berwarna kombinasi oranye dan putih.

Di balik gerbang, berdirilah badan Usaha Milik Negara (BUMN) spesialis penghasil kereta api yang memiliki kemampuan memproduksi kereta api kelas medium terbaik di kawasan Asia Tenggara.

Namun, saat rombongan wartawan menginjakkan kaki di markas PT INKA, suasana bengkel kerja terlihat sepi. Rupanya, awal tahun memang aktivitas INKA tidak terlalu ramai. Sebab, pekerja hanya punya tanggungan order tahun lalu.

Juru bicara PT INKA Bintang Gumilar menyatakan, musim ramai menjelang awal semester dua. Penyebabnya adalah proses importasi komponen yang lama. "Karena beberapa bagian seperti propulsi, roda, yang tidak diproduksi dalam negeri butuh waktu sampai 6 bulan," ujar Bintang di lokasi pabrik INKA, Jumat (22/3).

Proses yang paling sibuk adalah bagian rekayasa dan desain. Di ruangan berisi 60 orang insinyur itu, rancangan kereta pelbagai jenis dan perhitungan beban digarap secara komputerisasi.

Di bagian pabrik lain, yang merupakan tempat pemotongan besi, perakitan, dan pengecatan, hanya terlihat satu dua pekerja. Kepala Bidang Fabrikasi Syarief Hasari menyatakan proses perakitan tidak terlalu ramai lantaran produk jadi sebagian sudah dikirim ke klien. Utamanya Kementerian Perhubungan dan PT Kereta Api Indonesia (KAI).

"Kalau bisa maksimal, kapasitas produksi kita bisa mencapai 120 unit gerbong dan 100 unit lokomotif, tapi praktiknya sih belum pernah sampai 100 unit," ungkapnya.

Berdiri di lahan seluas 22,5 hektar, pabrik PT INKA menyerap 859 karyawan dari seluruh Indonesia. Menurut Direktur Produksi Yunendar Aryo Handoko, sampai sekarang pihaknya bisa berbangga karena INKA termasuk pabrik industri strategis peninggalan BJ Habibie pada 1980-an yang masih bertahan.

"Kita satu-satunya industri KA terpadu di ASEAN sejak pertama kali berdiri 1981. Dalam arti kita sudah punya kemampuan manufacturing, desain, sampai testing. Kompetitor kita dari Korea, China, dan India," tuturnya.

INKA pun berhasil mengekspor 10 persen produksinya ke luar negeri, mulai dari Bangladesh, Malaysia, hingga Australia. Sayangnya, pesanan yang belum maksimal dari dalam negeri membuat penjualan kereta asli Madiun ini harus dikoreksi.

Tahun lalu, INKA menargetkan penjualan Rp 1 triliun, tapi realisasi hanya mencapai Rp 675 miliar. Kini, target pendapatan BUMN itu direvisi menjadi Rp 935 miliar.

Bintang berharap order dari dalam negeri bisa bertambah, sehingga pendapatan INKA dapat meningkat di masa mendatang. "Intinya cintailah produk dalam negeri, seharusnya demand (dalam negeri) bisa lebih besar, apalagi Pak Dahlan Iskan bilang 2016 harus beli dari Madiun," harapnya. [noe]

Topik berita Terkait:
  1. Kereta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini