Mengenal Literasi Keuangan yang Terus Didorong OJK untuk Ditingkatkan
Merdeka.com - Anggota Dewan Komisaris OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Friderica Widyasari Dewi mendorong agar para santri terus meningkatkan literasi dan inklusivitas keuangan. Imbauan ini dia sampaikan di hadapan para santri di Yogyakarta, bertepatan dengan hari santri nasional.
Dalam sambutannya, Friderica menyampaikan bahwa indeks literasi masyarakat Indonesia sekitar 38 persen, sementara inklusinya 76 persen. Terjadi ketimpangan antara literasi dengan inklusivitas. Sederhananya, literasi keuangan adalah seseorang yang ‘melek’ dan paham tentang keuangan, sedangkan inklusivitas adalah seseorang yang memiliki akses terhadap jasa keuangan.
Dari persentase tersebut, Friderica menilai santri memiliki peran penting untuk meningkatkan tingkat literasi keuangan secara nasional. Santri, kata Friderica, dapat mengoptimalkan literasi keuangan syariah.
"Kita ingin meningkatkan (santri) untuk bisa belajar lebih lanjut tentang keuangan syariah, memahami supaya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah," ucap Friderica, Sabtu (22/10).
Friderica kemudian merujuk pernyataan Wakil Presiden Ma'ruf Amin yang pernah mengatakan bahwa pondok pesantren merupakan garda terdepan dalam mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin.
Dari pernyataan tersebut, Friderica menuturkan bahwa pondok Pesantren harus memiliki peran bukan hanya sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga berperan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, salah satunya melalui pengenalan dan pemanfaatan produk dan layanan jasa keuangan syariah.
"Produk dan layanan jasa keuangan syariah dapat menjadi solusi dalam mendukung aktivitas transaksi keuangan di sekitar pondok pesantren," ungkapnya.
Tahap Harus Dilakukan Pesantren
Secara terpisah, dalam perayaan hari santri nasional, Wakil Presiden Ma'ruf Amin menyampaikan ada tiga peran penting dilakukan oleh pondok pesantren.
Pertama adalah semangat hubbul waton minal iman atau mencintai Tanah Air yang dianggap sebagian daripada iman.
Kemudian yang kedua, lanjut Ma'ruf,santri memegang teguh hifzul misah atau menjaga kesepakatan. Terbentuknya NKRI, Pancasila, adalah merupakan kesepakatan yang disebut Kesepakatan Nasional.
"Kalau santri mengatakan NKRI harga mati, itu artinya memegang teguh kesepakatan nasional, hifzul misah. Karena itu kita menolak segala bentuk ideologi lain, bentuk negara yang lain, karena apa, karena itu menyalahi kesepakatan," ujarnya.
Adapun yang ketiga adalah semangat imaratul ardi atau membangun dan memakmurkan bumi. Tuhan sendiri telah mengatakan bahwa telah menciptakan manusia dengan tanggung jawab memakmurkan bumi.
"Karena itu kaum santri dituntut untuk memperbanyak sebab-sebab imarah, asbabul imarah yaitu melalui pengembangan ekonomi, melalui masalah pengembangan di pertanian, perkebunan, pertambangan, perindustrian," ujarnya.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya