Menengok Silicon Valley milik Singapura

Selasa, 16 Oktober 2018 16:47 Reporter : Ahda Bayhaqi
Menengok Silicon Valley milik Singapura JTC LaunchPad. ©2018 Merdeka.com/Ahda Bayhaqi

Merdeka.com - Keseriusan Singapura dalam menghadapi industri 4.0 bisa dilihat dari bagaimana mereka membangun iklim baik untuk tumbuh kembangnya perusahaan rintisan (startup). Salah satunya dengan membangun komplek perkantoran untuk perusahaan perintis yang diberi nama LaunchPad. Mirip Sillicon Valey milik Amerika Serikat.

Komplek startup tersebut didirikan di pusat penelitian dan bisnis yang terletak di Queenstown. Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura, melalui JTC mengelola daerah tersebut yang telah dikonsepkan sejak 2001.

LaunchPad dengan luas 56 ribu meter persegi, saat ini menjadi rumah 500 startup di Singapura. Adapun gedung yang dipakai merupakan bekas pabrik. Maka itu tiap gedung dinamakan sebagai "Block". Penambahan dua gedung lagi, Block 67 dan 69, diharapkan bakal menampung 1.200 startup.

JTC LaunchPad ©2018 Merdeka.com/Ahda Bayhaqi

LaunchPad memiliki enam blok, yaitu Block 71, 73, dan 79. Ditambah Block 75, 77, dan 81 yang baru diresmikan 2016 lalu. Lapangan untuk olahraga, gedung khusus pertemuan, bahkan pusat kuliner bergaya industrial bernama Timbre+

Merdeka.com berkesempatan menyambangi LaunchPad pada Senin (15/10) siang. Saat di lokasi begitu kental nuansa pabrik industri era jadul. Lift ukuran besar yang digunakan untuk mengangkut barang pabrikan masih dipertahankan. Pintu-pintu besi pun banyak dipertahankan. Namun begitu masuk, terlihat kantor tanpa sekat dan bergaya kekinian dengan mesin dingdong, pembuat kopi, dan bunyi mesin komputer.

JTC LaunchPad ©2018 Merdeka.com/Ahda Bayhaqi

Kantor startup pertama yang dikujungi adalah Block 71 yang dipegang oleh National University Singapore (NUS) Enterprise. Untuk diketahui Block 71 ini telah membuka cabang di Jakarta, dan menyusul akan dibangun juga di Bandung dan Yogyakarta.

Salah satu startup yang merepresentasikan diri adalah Kinexcs yang bergerak di bidang medis. Sang CEO Abhishek Agrawal menampilkan alat bernama "Kimia" yang merupakan mesin untuk membantu rehabilitasi pasien patah tulang. Alat tersebut memberikan informasi secara real-time data kemampuan fisik pasien untuk penyembuhan. Abhishek mengaku alatnya telah digunakan untuk salah satu rumah sakit di Singapura.

Berikutnya yang disambangi adalah TNB Ventures, program inkubasi startup yang didukung pemerintahan Singapore. Inkubasi ini berfokus memberikan pendanaan untuk startup yang memiliki dampak luas salah satunya untuk program kota pintar.

JTC LaunchPad ©2018 Merdeka.com/Ahda Bayhaqi

Yang terakhir adalah program inkubasi milik Kementerian Perekonomian Jerman, German Accelerator. Tujuannya untuk membantu startup Jerman melebarkan sayapnya ke wilayah Asia Tenggara melalui Singapura. Saat ini mereka telah membina 180 startup. Salah satu startup yang disiapkan merambah pasar Asia adalah Rytle yang bergerak dalam pengiriman logistik.

Menurut Direktur Startup and Global Innovation Alliance Enterprise Singapore, Jonathan Lim, Singapura merupakan negara ramah untuk mengembangkan startup. Adapun alasannya karena memiliki kesiapan dari segi infrastruktur berbasis teknologi dan regulasi. Tingkat ease of doing business menempati urutan kedua dunia dan juga memiliki aturan yang menjamin hak kekayaan intelektual. Data 2017 tercatat ada 4000 startup di Singapura. "Harapan kami akan ada 5000-6000 startup ke depannya," kata Jonathan di Singapura, Senin (15/10). [azz]

Topik berita Terkait:
  1. Singapura
  2. Industri 4.0
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini