Menengok nilai perdagangan RI-Australia sebelum misi dagang diboikot

Rabu, 4 Maret 2015 13:03 Reporter : Idris Rusadi Putra
Menengok nilai perdagangan RI-Australia sebelum misi dagang diboikot Jokowi bertemu Tony Abbott. ©Setpres RI/Rusman

Merdeka.com - Australia mulai menunjukkan keseriusannya ingin memutus hubungan dagang dengan Indonesia terkait eksekusi mati duo Bali Nine. Ini terlihat dari dibatalkannya lawatan Menteri Perdagangan Australia Andrew Robb beserta rombongan ke Indonesia. Rencananya rombongan hendak ke Indonesia Maret 2015 tapi dibatalkan setelah Kejaksaan Agung memindahkan duo Bali Nine ke Nusakambangan pagi tadi, Rabu (4/3).

Menteri Luar Negeri Australia Julie Isabel Bishop menyatakan misi dagang itu tidak patut dilanjutkan saat negaranya mengkritik keputusan Indonesia.

"Ini bukan waktu yang tepat bagi Australia untuk melawat ke Indonesia dalam misi dagang yang besar," ujarnya seperti dilansir Sydney Morning Herald.

Jika hubungan dagang kedua negara ini benar diputus, berapa nilai perdagangan Indonesia dengan negeri Kanguru tersebut?

Mengutip data badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia ke Australia cukup besar. Sepanjang 2014, nilai ekspor Indonesia ke Australia mencapai miliaran dolar Amerika. Pada Januari nilai ekspor Indonesia ke Australia tercatat sebesar USD 565 juta, Februari USD 390 juta dan Maret USD 395 juta. Sedangkan untuk April tercatat USD 611 juta, Mei USD 395 juta, Juni USD 350 juta. Kemudian untuk Juli USD 388 juta,

Agustus USD 305 juta, September USD 491 juta, Oktober USD 490 juta dan November USD 306 juta.

Sedangkan untuk nilai impor Indonesia dari Australia tercatat pada Januari sebesar USD 377 juta, Februari USD 390 juta, Maret USD 456 juta dan April 503 juta. Kemudian Mei 420 juta, Juni USD 539 juta, Juli USD 488 juta, Agustus USD 497 juta, September USD 539 juta, Oktober USD 540 juta dan november USD 448 juta.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia cukup percaya diri menyikapi protes keras Brasil dan Australia. Bahkan, dua negara tersebut diminta 'tak banyak tingkah' jika menginginkan hubungan dagang dengan Indonesia tetap berlanjut. Selama ini, Indonesia masih menjadi 'primadona' produk ekspor Brasil dan Australia.

Jika protes keras terhadap kedaulatan Indonesia terus dilontarkan Brasil dan Australia, pemerintah mengancam menutup keran importasi dari dua negara.

"Ya kalau masih seperti itu, kita akan cari komoditi negara lain," tegas Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Nus Nuzulia Ishak, di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (25/2).

Setidaknya ada lima komoditas asal Brasil yang cukup besar diekspor ke Indonesia. yakni Soybean atau kacang kedelai senilai USD 845,83 juta, Jagung senilai USD 310,95 juta, Kain Katun senilai USD 289,86 dan Gula. "Kalau dari Brasil ada beberapa komoditi ekspor dengan nilai tertinggi di tahun 2014," tuturnya.

Produk Australia di Indonesia juga terbilang besar. Komoditas yang diimpor Indonesia dari negeri Kanguru tersebut antara lain Gandum, hewan ternak hidup, Gula, Briket Batu Bara, Daging Beku, Alumunium, Bijih Besi, besi bekas dan produk harian masyarakat.

"Nilai impor gandum Indonesia dari Australia tahun 2014 saja sekitar USD 1,26 miliar, sedangkan untuk nilai ekspor gandum Australia ke dunia di tahun yang sama senilai USD 5,37 miliar," bebernya.

Nus kembali menegaskan jika Brasil dan Australia masih melakukan intervensi pada Indonesia, pemerintah tidak segan-segan menutup keran impor dari keduanya. "Kita akan cari komoditi tersebut di negara lain," katanya. [idr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini