Membongkar fakta di balik mencemaskannya kerugian Garuda Indonesia

Senin, 19 Juni 2017 07:00 Reporter : Idris Rusadi Putra
Garuda Indonesia. ©2014 merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - PT Garuda Indonesia (persero) mencatat kerugian USD 99,1 juta atau sekitar Rp 1,3 triliun di kuartal I-2017. Capaian ini turun 11.969 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2016, di mana Garuda Indonesia mencatatkan kerugian sebesar USD 800 ribu.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Pahala Mansury mengatakan, kerugian tersebut terjadi karena meningkatnya biaya operasi sebesar 21,1 persen, yang berdampak tergerusnya laba bersih. Selain itu kerugian ini disebabkan karena peningkatan biaya bahan bakar pesawat atau avtur dan biaya pelayanan lain.

"Penyebabnya kenapa? Karena memang dalam satu tahun ini peningkatan biaya khususnya fuel dan biaya lainnya termasuk service dan system reservasi," kata Pahala saat konferensi pers di Gedung Garuda, Jakarta, Jumat (28/4).

Sepanjang kuartal I-2017, Garuda Indonesia mencatatkan kinerja operasional yang cukup kuat, dengan capaian pertumbuhan angkutan penumpang hingga 3,4 persen. Pencapaian cukup signifikan pada sektor penerbangan internasional dengan peningkatan penumbuhan penumpang hingga 26,1 persen dibandingkan kuartal I tahun 2016.

Sementara itu sepanjang kuartal I-2017 kapasitas produksi Garuda Indonesia telah meningkat 10,9 persen menjadi 15,8 juta dari 14,3 seat per kilometer 2016. Adapun pertumbuhan seat load factor pada tahun 2017 tercatat sebesar 72,5 persen meningkat 2,7 persen dibandingkan periode yang sama 2016. Namun demikian, Garuda Indonesia masih saja merugi. Sebagian pihak bahkan mencemaskan kondisi keuangan maskapai pelat merah ini.

Berikut fakta mencemaskan dari meruginya maskapai pelat merah tersebut:

Topik berita Terkait:
  1. Garuda Indonesia
  2. BUMN
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.