Memahami Konsep Taksonomi Hijau Indonesia yang Baru Diluncurkan OJK

Kamis, 20 Januari 2022 14:55 Reporter : Anisyah Al Faqir
Memahami Konsep Taksonomi Hijau Indonesia yang Baru Diluncurkan OJK OJK. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo secara resmi merilis skema pembiayaan berkelanjutan Taksonomi Hijau Indonesia. Skema ini merupakan kerja sama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama SRO (Bursa Efek Indonesia, Kustodian Sentral Efek Indonesia, dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia) dan pemerintah untuk mengakselerasi kerangka pengaturan bursa karbon di Indonesia. Taksonomi Hijau disusun dengan mengkaji 2.733 klasifikasi

"Pada hari ini saya luncurkan Taksonomi Hijau Indonesia," kata Jokowi dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2022 di Jakarta, Kamis (20/1).

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso menjelaskan, Taksonomi Hijau Indonesia terdiri dari 2.733 sektor dan subsektor ekonomi. Sebanyak 919 di antaranya telah dikonfirmasi oleh kementerian terkait. Hal ini menjadikan Indonesia salah satu negara di dunia yang telah memiliki standar nasional sektor ekonomi hijau seperti China, Uni Eropa dan ASEAN.

"Taksonomi hijau yang diluncurkan oleh Bapak Presiden pada kesempatan ini, akan menjadi pedoman bagi penyusunan kebijakan (insentif dan disinsentif) dari berbagai Kementerian dan Lembaga termasuk OJK," kata Wimboh.

Lalu, apa yang dimaksud taksonomi hijau Indonesia? Simak penjelasannya berikut ini:

2 dari 2 halaman

Taksonomi hijau didefinisikan sebagai klasifikasi sektor berdasarkan kegiatan usaha yang mendukung upaya perlindungan lingkungan hidup dan mitigasi serta adaptasi perubahan iklim. Pengertian tersebut tidak jauh berbeda dengan definisi di beberapa negara lain seperti EU Green Taxonomy dan China Green Catalogue.

Taksonomi hijau bersifat sebagai living document dan terbuka untuk mengalami penyesuaian dalam konteks pengembangan klasifikasi dan bentuk kegiatan usaha baru. Sejalan dengan penegasan Presiden Joko Widodo atas komitmen Indonesia dalam penanganan perubahan iklim di UN Climate Change Conference ke-26 (COP26).

Taksonomi Hijau ini akan menjadi salah satu capaian atau kebijakan nasional, bersama dengan beberapa inisiatif di sektor-sektor lainnya. Seperti percepatan Dekarbonisasi BUMN, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2021-2030, perdagangan karbon, maupun Peta Jalan Pengembangan Industri Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB).

Harapannya berbagai kebijakan tersebut dapat direalisasikan dengan baik. Sehingga mempercepat implementasi keuangan berkelanjutan di Indonesia. Hadirnya Taksonomi Hijau, Indonesia menjadi salah satu dari sedikit negara di dunia yang telah memiliki standar hijau sebagai acuan nasional. [idr]

Baca juga:
Presiden Jokowi Soroti Maraknya Investasi Bodong di Tengah Pandemi
Presiden Jokowi Beberkan Tantangan Industri Jasa Keuangan di 2022
Kinerja Pasar Modal Indonesia 2021 Terbaik Ketiga Asia
Catat, Tata Cara Pengajuan Pinjaman Multiguna di Perusahaan Pembiayaan

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. OJK
  3. Be Smart
  4. Ragam Konten
  5. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini