Masih di Bawah Nilai Fundamental, Bos BI Yakin Rupiah akan Menguat

Kamis, 12 November 2020 14:24 Reporter : Dwi Aditya Putra
Masih di Bawah Nilai Fundamental, Bos BI Yakin Rupiah akan Menguat Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. ©2020 dok.Bank Indonesia

Merdeka.com - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo meyakini nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih akan terus mengalami penguatan. Meskipun pada saat ini, mata uang Garuda ini masih melemah di kisaran Rp14.100 per USD.

"Sekarang diperdagangkan sekitar Rp14.100. Kami melihat bahwa nilai tukar rupiah masih berpotensi untuk menguat, kami melihat bahwa level sekarang secara fundamental masih undervalued," katanya dalam rapat kerja bersama dengan Komisi XI DPR RI, Jakarta, Kamis (12/11).

Pagi tadi, Rupiah dibuka di Rp14.080 per USD atau menguat tipis dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di Rp14.085 per USD.

Mengutip data Bloomberg, Rupiah langsung melemah ke Rp14.120, dan masih melanjutkan pelemahannya hingga ke posisi Rp14.170 per USD. Rupiah sempat stagnan, namun akhirnya menguat dan saat ini berada di Rp14.165 per USD.

Dia mengatakan, jika melihat fundamental ekonomi Indonesia yang ada saat ini, nilai tukar Rupiah masih jauh di bawah nilai fundamentalnya. Oleh sebab itu, dia meyakini rupiah masih akan bisa menguat.

Dia mencontohkan dari sisi inflasi, saat ini masih berkisar di level 1,44 persen secara tahunan pada Oktober 2020. Sedangkan transaksi berjalan defisit USD 2,9 miliar kuartal II-2020 dan premi risiko menurun.

"Dengan melihat bahwa inflasi rendah, transaksi berjalan defisitnya rendah, daya tarik aset keuangan Indonesia yang tinggi dan premi risiko yang menurun," tegas dia.

Menurut Perry, beberapa indikator risiko di pasar keuangan juga mulai mereda, seperti Credit Default Swap (CDS) yang di posisi 73 dan VIX Index di posisi 26 meskipun ketidakpastian pasar keuangan masih tinggi.

"Di pasar keuangan global juga ketidakpastian mulai turun meski tetap tinggi karena faktor geopolitik dan second wave Pandemi COVID. VIX dan CDS turun terutama di bulan-bulan November setelah pemilu di AS," ucap dia. [azz]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini