Mantan menteri AS: Arab Saudi tak akan ambil keputusan rasional

Rabu, 3 Februari 2016 11:55 Reporter : Idris Rusadi Putra
Mantan menteri AS: Arab Saudi tak akan ambil keputusan rasional Arab Saudi. © Religion.info

Merdeka.com - Mantan menteri luar negeri AS, Madeleine Albright angkat bicara terkait rendahnya harga minyak dunia sekitar USD 30 per barel. Madeleine percaya, Arab Saudi tidak akan mengurangi produksi untuk menaikkan harga, meski cara ini sangat rasional.

Harga minyak menyentuh titik terendah dalam 13 tahun terakhir pada Januari 2016. Harga minyak mentah hanya USD 30 per barel dan jauh di bawah harga pertengahan 2014 silam yang mencapai di atas USD 100 per barel.

Arab Saudi sebenarnya sangat membutuhkan harga minyak yang cukup tinggi untuk membiayai anggaran negaranya. Namun mereka masih tetap memompa minyak dan membuat harga jatuh. Madeleine menduga, jika Saudi mengurangi produksi maka mereka akan kehilangan pasar.

"Saudi tidak akan mengambil keputusan rasional (mengurangi produksi). Mereka cukup jelas sedang membutuhkan pangsa pasar. Jika mereka menyerah maka mereka tidak akan lagi mendapatkan pasar tersebut," kata Madeleine seperti dikutip dari CNN, Rabu (3/2).

Negara produsen minyak lainnya seperti Rusia, Venezuela dan Nigeria saat ini tidak bisa bertahan dengan harga rendah. Mereka terus menekan Arab Saudi untuk bersama-sama mengurangi produksi minyak.

"Saya belum pernah melihat hal ini sebelumnya. Ini sangat menarik," katanya.

Selama beberapa dekade, Arab Saudi adalah negara pengekspor minyak utama dunia. Ketika Arab Saudi berhenti memompa minyak, harga langsung naik. Sebaliknya, jika Saudi memompa lebih banyak harga langsung turun.

Namun, seluruh dinamika pasar energi telah berubah karena ledakan produksi energi di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir. Amerika sekarang menjadi produsen minyak terbesar dan Saudi menempati urutan kedua.

Dunia sedang menunggu siapa yang merespons terlebih dulu dan mengurangi produksi. Amerika Serikat atau Arab Saudi.

Untuk saat ini, Saudi masih terus memproduksi minyak bahkan mencapai rekor terbaru. Mereka berharap perusahaan minyak AS bisa keluar dari pasar minyak dunia. [idr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini