Literasi rakyat rendah buat perusahaan RI banyak dikuasai asing

Jumat, 26 Mei 2017 09:06 Reporter : Arie Sunaryo
Literasi rakyat rendah buat perusahaan RI banyak dikuasai asing Penutupan Bursa. ©2012 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Pasar modal di Indonesia masih didominasi oleh investor asing. Mayoritas saham perusahaan-perusahaan besar Tanah Air dan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), dikuasai investor mancanegara.

Tingkat literasi dan inklusi masyarakat Indonesia tentang pasar modal yang masih rendah menjadi salah satu penyebabnya. Investor lokal selama ini lebih senang menanamkan modal dengan keuntungan jangka pendek dengan keuntungan kecil. Padahal, jika lebih bersabar, berinvestasi jangka panjang dengan membeli saham di BEI, keuntungannya lebih menjanjikan.

Pimpinan Cabang PT Phintraco Securities Yogyakarta, Rolly Sugiro, mengatakan menjadi investor dengan membeli saham adalah cara paling tepat untuk mengambilalih perusahaan yang dikuasai asing.

"Kalau saham perusahaan nasional kita dikuasai asing, masyarakat pasti akan memprotesnya. Tapi anehnya mereka menolak untuk membeli saham. Padahal dengan membeli saham kita akan menguasi kembali perusahaan nasional," ujar Rolly disela acara "Edukasi Wartawan Ekonomi Bisnis se Wilayah Solo Raya bidang Pasar Modal" yang di adakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo, Kamis (25/5).

Kepala Pengembangan Wilayah PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Dedy Priadi, menambahkan program 'Yuk Nabung Saham' menjadi salah satu upaya meningkatkan minat masyarakat Indonesia pada pasar modal.

"Perusahaan yang sudah tercatat di bursa efek bisa menjual sahamnya ke masyarakat atau karyawannya. Sehingga karyawan tidak hanya menerima gaji tapi juga menerima deviden atau pembagian keuntungan dari perusahaan," jelas Dedy.

Dedy melanjutkan, investasi saham di pasar modal tetap saja mempunyai resiko. Namun resiko itu bisa diminimalisir dengan cara melihat laporan keuangan dan catatan fundamental perusahaan yang tercatat di bursa efek.

"Dari sekitar 500 perusahaan 70 persen diantaranya menguntungkan," katanya.

Kepala OJK Solo, Laksono Dwionggo berpendapat, untuk meningkatkan literasi pasar modal, pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Diantaranya melalui galeri investasi yang ada di kampus-kampus.

"Edukasi kepada wartawan tentang pasar modal juga sangat penting. Media memiliki peran penting dalam mendorong masyarakat Indonesia berperan aktif dalam pasar modal," katanya.

Berdasarkan survei terakhir, lanjut Laksono, tingkat literasi masyarakat Indonesia tentang pasar modal hanya 4,4 persen, sedangkan tingkat inklusi hanya 1,25 persen. Jika dibandingkan dengan tingkat literasi dan inklusi keuangan masih sangat jauh.

"Literasi keuangan mencapai 29,9 persen sedangkan inklusi keuangan mencapai 63,63 persen," jelasnya. [bim]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini