Lapangan Sukowati sumbang produksi minyak terbesar, tembus 6.785 barel/hari

Jumat, 13 Juli 2018 11:32 Reporter : Idris Rusadi Putra
Ilustrasi Migas. shutterstock.com

Merdeka.com - PT Pertamina EP (PEP), melalui unit usaha Asset 4, mencatat kinerja positif sepanjang semester I 2018. Dari hasil yang didapat, lapangan minyak Sukowati berkontribusi terbesar dalam produksi minyak. Hal ini dampak dari pengoperasian kembali sumur yang sudah mati.

General Manager Pertamina EP Asset 4, Agus Amperianto mengatakan, pada semester 1 2018, produksi gas mencapai 174,87 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) atau 110,03 persen dari proyeksi 2018. Sementara itu, produksi minyak Pertamina EP Asset 4 periode Januari-Juni 2018 mencapai 13.728 barel per hari atau 97,96 persen dari target perusahaan.

Agus mengatakan, kontribusi gas terbesar berasal dari Lapangan Donggi Matindok di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah yakni sebesar 95,13 MMSCFD.

Sedangkan produksi minyak terbesar berasal dari Lapangan Sukowati di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yaitu 6.785 barel per hari atau 107,17 persen dari target perusahaan.

"Alhamdulillah, Sukowati yang baru dikelola secara penuh oleh PEP pada 20 Mei 2018, memberi kontribusi terbesar dari lima 'field' yang ada di bawah PEP Asset 4," ujar Agus di Jakarta, Jumat (13/7).

Produksi Sukowati sebelum terminasi 20 Mei 2018 tercatat 6.598 barel per hari. Sedangkan produksi setelah PEP mengambil alih pengelolaan dari JOB PPEJ status 20 Mei 2018 sampai dengan akhir Juni 2018 sebesar 7.424 barel per hari.

Pada masa puncak produksinya, lanjutnya, produksi minyak dari Lapangan Sukowati pernah mencapai lebih dari 40 ribu barel per hari. "Pasca terminasi, kami berhasil menghidupkan kembali sumur-sumur yang mati" ungkap Agus.

Sukowati Field Manager, Heri Aminanto mengatakan, manajemen telah menyetujui penambahan jumlah alat bor untuk melaksanakan program kerja yang telah disusun, sehingga total menjadi tiga rig yang bekerja di lapangan Sukowati. Harapannya adalah program kerja dapat dilaksanakan dengan lebih cepat dari target awal.

Field Sukowati juga tengah melakukan kajian subsurface untuk melakukan aplikasi teknologi baru, menggunakan nitrogen pada sejumlah sumur yang diharapkan mendapatkan total tambahan produksi sekitar 450 barel per hari."

Menurut dia, pihaknya juga akan mengaktifkan kembali sumur-sumur mati dengan perkiraan tambahan 400 barel per hari dan kerja ulang (work over) pada lima sumur dengan estimasi tambahan 500 barel per hari serta stimulasi/pengasaman pada tujuh sumur 350 barel per hari.

Program paling strategis dari Field Sukowati adalah melakukan kajian di fasilitas produksi antara lain pemasangan fasilitas produksi awal (early production facility/EPF) di Sukowati PAD A & B untuk sumur natural flowing yang diharapkan mendapatkan 400 barel per hari dan menghemat tekanan reservoir sehingga memperpanjang usia sumur.

Selain itu, Field Sukowati juga akan mengkaji teknologi EOR C02 injeksi terkait adanya produksi C02 di Lapangan Jambaran-Tiung Biru.

Sementara itu, PT Pertamina EP, melalui unit usaha Asset 4 memproyeksikan produksi minyak pada semester II 2018 sebesar 13.980 barel per hari. Sedangkan, produksi gas pada semester II 2018 ditargetkan sebesar 171 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).

Untuk mencapai target produksi tersebut, General Manager Pertamina EP Asset 4 Agus Amperianto mengatakan bahwa berbagai langkah disiapkan antara lain pengeboran sumur serta reparasi sumur lainnya di Cepu.

Sementara untuk Lapangan Poleng, ada beberapa kegiatan di semester II 2018 yang disiapkan antara lain menjaga kestabilan tekanan sumur serta pemasangan pipa bawah laut (subsea pipeline) untuk mengaktivasi sumur-sumur BW Platform.

Adapun untuk Field Donggi Matindok, PEP Asset 4 berencana membangun fasilitas pendukung di CPP Donggi dan memasang 'future facilities' untuk penanganan kondensat berlebih oleh MGDP dan untuk mengoptimalkan CPP Matindok.

"Field Donggi Matindok juga akan melakukan stimulasi terhadap dua sumur," katanya.

Khusus untuk Field Papua, Agus menegaskan, pada semester II 2018 ada usulan untuk pengiriman minyak mentah Salawati langsung ke Kilang Kasim, Papua. Hal tersebut akan mengurangi biaya pemakaian fasilitas bersama (sharing fasilitas), meminimalkan kehilangan, dan mempercepat minyak menjadi pendapatan.

Selain itu, di Papua juga mempunyai potensi sumur eksplorasi KUW-1 sebagai alternatif sumber gas untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Klamono atau dijual ke pihak luar. [idr]

Topik berita Terkait:
  1. Migas
  2. Pertamina
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini