Langkah RI Jalin Perjanjian Dagang Internasional Dinilai Tepat untuk Genjot Ekspor

Rabu, 26 Juni 2019 14:52 Reporter : Merdeka
Langkah RI Jalin Perjanjian Dagang Internasional Dinilai Tepat untuk Genjot Ekspor Pelabuhan. ©2013 Merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus berupaya melakukan penetrasi pasar baru, seiring anjloknya ekspor nasional imbas dari kondisi perekonomian global.

Caranya antara lain dengan menggencarkan perjanjian perdagangan baru dengan negara-negara lain setelah tahun-tahun sebelumnya tampak vakum. Langkah ini dinilai sebagai hal positif yang diharap bisa mendongkrak neraca perdagangan ke depan.

"Sudah tepat yang sedang diinisiasi sekarang," ujar Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus, seperti dikutip Rabu (26/6).

Heri menilai upaya mencari pasar baru gencar dilakukan Kementerian Perdagangan dalam 2 tahun terakhir. "Baru kali ini mau gencar lagi. Ini di satu sisi positif. Tapi, harus diantisipasi juga timbal baliknya," imbuh dia.

Namun dia mengingatkan ada hal yang harus tetap diantisipasi terutama dalam menghadapi dampak derasnya impor seiring keberadaan perjanjian dagang. Salah satunya melalui penguatan manufaktur, yang diperlukan agar produk lokal tetap bisa bersaing dengan produk negara lain.

Pemilihan penetrasi pasar ke negara berkembang, misalnya di kawasan Amerika Latin dan Afrika, pun diapresiasi karena dianggap bisa meminimalkan risiko lesunya perdagangan dari mitra dagang besar Indonesia yang sedang terlibat perang dagang.

Ekonom Universitas Indonesia (UI), Lana Soelastianingsih, mengakui upaya serius pemerintah terlihat dalam melakukan perluasan pasar. Walaupun masih dirasa minim pengaruhnya terhadap peningkatan ekspor. Namun, upaya pemerintah membuka akses pasar baru tetap patut diapresiasi.

"Ya itu patut diapresiasi. Harus kita hargai dong. Nggak boleh kita abaikan, karena yang namanya market diversification is a must, suatu keharusan. Diversifikasi produk pun is a must, suatu keharusan," ujar dia

Lana sendiri menilai, perluasan pasar dapat menyelamatkan Indonesia dari pelemahan ekonomi dunia, terutama yang disebabkan perang dagang seperti yang terjadi sekarang. Di mana, perang dagang antara Amerika dan Cina membuat ekspor Indonesia menurun.

"Sering terjadi kalau ada salah satu komoditas andalan Indonesia harganya naik misal kopi, siapa nih yang suka minum kopi, Uni Eropa. Kita ekspornya ke uni Eropa aja. Nggak cari alternatif pasar lain karena keenakan," tegas dia.

Kedua pengamat ini mengakui jika dalam jangka pendek ekspor nasional masih dipengaruhi permintaan global, yaitu pasar-pasar tradisional Indonesia. Efek perjanjian dagang baru bisa terasa dalam kisaran setidaknya setahun.

Sosialisasi yang gencar diperlukan supaya para pengusaha mampu memanfaatkan perjanjian dagang yang ada.

Adapun pada Mei, ekspor Indonesia tercatat sebesar USD 14,74 miliar. Nilai tersebut naik 12,42 persen dibandingkan April 2019. Namun dibandingkan Mei tahun lalu, nilainya masih minus -8.99 persen.

Di sisi lain, nilai impor menurun 17,71 persen secara tahunan. Besarannya pada Mei 2019 berada di angka USD 14,53 miliar. Dengan kondisi tersebut, neraca dagang Indonesia tercatat surplus USD 0,21 miliar.

Sumber: Liputan6.com [idr]

Topik berita Terkait:
  1. Pelabuhan
  2. Ekspor Impor
  3. Kemendag
  4. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini