KTT G20, Bank Indonesia Fokus Koordinasi Kebijakan Moneter untuk Pemulihan Bersama

Selasa, 14 September 2021 20:53 Reporter : Merdeka
KTT G20, Bank Indonesia Fokus Koordinasi Kebijakan Moneter untuk Pemulihan Bersama Gubernur BI Perry Warjiyo. ©2020 Humas Bank Indonesia

Merdeka.com - Bank Indonesia (BI) menyodorkan isu koordinasi moneter dan sektor keuangan untuk pemulihan bersama dalam Presidensi Indonesia di ajang G20 2022. Itu jadi salah satu dari lima agenda jalur keuangan yang diusung bank sentral.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, ekonomi global di tengah pandemi Covid-19 saat ini sudah mulai membaik, tapi belum seimbang.

Dia menilai, negara-negara maju sebagian besar sudah pulih dan berencana mengubah kebijakan untuk mengurangi stimulus fiskal dan moneter. Sementara negara berkembang kini masih berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Oleh karena itu koordinasi ini perlu kita lakukan untuk diperjuangkan di dalam G20, agar pemulihan ekonomi global bisa lebih seimbang dan tidak menimbulkan suatu spillover effect atau dampak rambatan terhadap negara-negara berkembang," kata Perry dalam sesi teleconference, Selasa (14/9).

Perry lantas menyoroti kebijakan moneter yang dilakukan sejumlah negara maju. Seperti dilakukan Amerika Serikat yang berencana melakukan kebijakan pengurangan likuiditas atau dikenal sebagai The Fed Tapering.

"Demikian juga di negara-negara maju yang lain. Juga di negara-negara maju sudah direncanakan untuk mengurangi pelonggaran kebijakan di sektor keuangan yang selama ini dilakukan. Misalnya pengaturan mengenai kredit maupun pembiayaan," ungkapnya.

Menurut dia, koordinasi jadi sangat penting agar bisa pulih bersama, dan tidak menimbulkan dampak rambatan negatif ke negara-negara berkembang.

"Oleh karena itu koordinasi di tingkat G20 untuk ini perlu direncanakan secara baik, diperhitungkan secara baik, dan dikomunikasikan secara baik. Well planned, well calibrated, well communicated. Sehingga bisa pulih bersama untuk mendukung pemulihan ekonomi dan mengurangi atau menghilangkan dampak yang tidak diinginkan kepada negara berkembang," tuturnya.

"Termasuk di dalam ini adalah inisiatif lembaga-lembaga internasional, yang dalam hal ini termasuk alokasi tambahan SDR allocation oleh IMF. Agar negara-negara berkembang bisa lebih tahan mengatasi berbagai dampak dari ketidakseimbangan pemulihan global ini," terangnya.

Baca Selanjutnya: Selanjutnya...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini