KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Kopti pesimis target swasembada kedelai tercapai

Senin, 23 Juli 2012 15:31 Reporter : Pandasurya Wijaya
kedelai. shutterstock

Merdeka.com - Koperasi Perajin Tempe Tahu Indonesia (Kopti) pesimis jika swasembada kedelai yang merupakan bahan baku utama tahu dan tempe, bisa terwujud. Kopti menilai sudah empat tahun ini, dari rencana swasembada kedelai 2014 yang direncanakan pemerintah, tidak ada tanda-tanda peningkatan produksi.

"Kalau harga ini terus naik dan daya beli menurun maka pemerintah harus turun tangan. Pengrajin butuh stabilitas harga," ujar  Ketua Koperasi Pengrajin Tempe Tahu Indonesia, Sutaryo pada merdeka.com. Senin (23/7).

Dia mengatakan saat ini Indonesia masih ketergantungan impor kedelai dari Amerika Serikat. Saat adanya cuaca buruk, membuat harga kedelai untuk kebutuhan tahu dan tempe dalam negeri terus naik. "Importir juga terus menaikkan harga," kata Sutaryo.

Saat ini kebutuhan nasional untuk kedelai sebanyak 2,4 juta ton per  tahun. Sementara produksi nasional hanya 600.000 ton per tahun. Sehingga kebutuhan impor mencapai 1,8 juta ton per tahun. 

Dari 2,4 juta ton tersebut kebutuhan untuk produksi tahu dan tempe mencapai 80 persen. Paling tidak kebutuhan untuk konsumsi wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi mencapai 10.000 ton per bulan. "Sekarang ini harga kedelai mencapai Rp 8.000 per kilogram. Sebelumnya Rp 5.500. Jadi ada kenaikan sebesar 35-40 persen," katanya. 

Seluruh pengusaha tempe dan tahu seluruh Indonesia, mulai Rabu (25/7) sampai (28/7), akan berhenti berproduksi. Hal ini sebagai protes pada pemeritah karena tidak bisa mengatur tata niaga kedelai. Selama tiga hari ini, kemungkinan dipasaran tidak ada tahu dan tempe yang dijual dipasaran. [arr]

Topik berita Terkait:
  1. Ekspor Impor
  2. Swasembada Pangan
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.