Kontribusi Sektor Properti RI Pada Pertumbuhan Ekonomi Terendah di Asia

Kamis, 14 Mei 2020 15:21 Reporter : Dwi Aditya Putra
Kontribusi Sektor Properti RI Pada Pertumbuhan Ekonomi Terendah di Asia Perumahan. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencatat kontribusi sektor properti di Tanah Air masih rendah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Hal ini tercermin dari data pada 2019 lalu kontribusi properti baru sekitar 2,77 persen dari PDB.

Sekretaris Jenderal Apindo, Eddy Hussy, mengatakan kontribusi sektor properti di Indonesia masih sangat kecil dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya. Bahkan, jika dibandingkan dengan Malaysia saja Indonesia tidak ada setengahnya.

Di mana, kontribusi sektor properti di Malaysia mencapai 20,53 persen dari PDB pertumbuhannya. Kemudian di negara Filipina hingga Singapura kontribusinya masing-masing mencapai tertinggi yakni 21,09 persen dan 23,34 persen dari PDB-nya.

"Properti secara tidak langsung mendorong tapi baru 2,77 persen saja," kata dia dalam diskusi virtual di Jakarta, Kamis (14/5).

Dia pun mendorong agar sektor properti di Tanah Air dapat lebih menggeliat. Paling tidak mampu mencapai 8 persen terhadap PDB. Atau setara dengan posisi Thailand yang mencapai angka 8,30 persen terhadap PDB-nya.

"Kalau kita mencapai 8 persen saja saya rasa akan sangat kita sama-sama dorong agar pertumbuhan itu bisa sama dengan negara-negara lain," jelas dia.

Untuk mencapai pertumbuhan tersebut tentu saja tidak mudah. Dia juga mendesak agar pemerintah memberikan kemudahan regulasi terhadap sektor properti. Sehingga ke depan, dapat tumbuh dengan baik.

1 dari 1 halaman

Bunga KPR Tinggi, Penjualan Rumah Menurun 30,52 Persen di Triwulan I 2020

tinggi penjualan rumah menurun 3052 persen di triwulan i 2020

Bank Indonesia (BI) mencatat penjualan properti residensial menurun signifikan. Penjualan properti residensial primer triwulan I-2020 mengalami penurunan secara triwulanan.

Penjualan rumah pada periode tersebut tercatat mengalami kontraksi -30,52 persen (qtq). Lebih dalam dari kontraksi -16,33 persen (qtq) pada triwulan sebelumnya. Termasuk pada triwulan-I tahun 2019 sebesar 23,77 persen (qtq).

"Penjualan rumah tercatat kontraksi -30,52 persen (qtq)," kata Kepala Departemen Komunikasi, Bank Indonesia, Onny Widjanarko dalam siaran pers, Jakarta, Rabu (13/5).

Penurunan terjadi pada seluruh tipe rumah. Rumah tipe besar (41,01 persen, qtq), rumah tipe menengah (-34,39 persen, qtq), dan rumah tipe kecil (-26,09 persen, qtq).

Secara tahunan, penjualan properti residensial triwulan l-2020 juga menunjukkan kontraksi pertumbuhan yang cukup dalam sebesar -43,19 persen (yoy), dari 1,19 persen (yoy) pada triwulan-IV-2019.

Para responden mengaku suku bunga KPR yang dirasa masih cukup tinggi. Sehingga ini menjadi faktor utama yang menyebabkan pertumbuhan penjualan properti residensial masih terhambat.

Meskipun rata-rata suku bunga KPR pada triwulan 1-2020 sebesar 8,92 persen. Turun dibandingkan triwulan lV-2019 sebesar 9,12 persen.

Faktor lain yang menjadi penghambat antara lain kondisi darurat bencana akibat Covid-19, perizinan/birokrasi, kenaikan harga bahan bangunan, dan proporsi uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR di perbankan.

[bim]

Baca juga:
Bunga KPR Tinggi, Penjualan Rumah Menurun 30,52 Persen di Triwulan I 2020
Bank Indonesia Catat Indeks Harga Properti Triwulan I 2020 Tumbuh Melambat
Awal Tahun 2020, Pengembang Crown Group Catatkan Penjualan Rp630 Miliar
Cetak Wirausaha Baru Bidang Properti, Bank BTN Latih 1.673 Lulusan Pesantren
Kebangkitan Industri Properti Tertahan Pandemi Virus Corona
Di Tengah Pandemi, Emiten Pengembang Properti Optimis Target Pendapatan Tercapai
Strategi Pengembang Properti Gairahkan Pasar Modal di Tengah Pandemi Covid-19

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini